Jembatan Sei Alalak Dibangun, PJN Kalsel Siapkan Jalur Alternatif

Patroliindonesia |Jakarta – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional XI saat ini tengah melaksanakan pembangunan Jembatan Sei Alalak di Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan.

Jembatan tersebut akan menggantikan Jembatan Kayu Tangi 1 yang telah berusia sekitar 30 tahun dan menjadi jalur utama yang menghubungkan Banjarmasin dengan berbagai wilayah di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.

Bacaan Lainnya

Proses pembangunan Jembatan Alalak sudah mulai terlihat dikerjakan Sebagian dinding pembatas proyek juga terpasang. Pembongkaran bangunan-bangunan yang terkena pembebasan pun nyaris rampung.

Pembangunan jembatan model cable stayed ini akan menelan APBN mencapai ratusan miliar. Jembatan tersebut digadang-dagang paling unik se-Kalsel bahkan Kalimantan.

Tapi, selama pembangunan pengendara mesti bersabar. Akses penghubung Banjarmasin dan Barito Kuala ini akan ditutup total.

Sebagai alternatif, warga bisa melintasi Jalan Trans Kalimantan (Terminal Handil Bhakti) menuju ke Jalan Tembus Perumnas atau Cemara Ujung.

Saat ini aktivitas persiapan pembangunan memang belum mengganggu lalu lintas warga. Namun, sejak 25 Februari mendatang, sesuai rencana pemancangan pertama di mulai, jalan pun akan ditutup.

Lalu bagaimana dengan warga Alalak Utara? Mengingat, selama ini mereka menggunakan jalan di sisi jembatan untuk menuju Jalan Hasan Basry.

Pelaksana Jalan Nasional (PJN) Wilayah Kalsel I, Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional Wilayah XI Banjarmasin rupanya menyiapkan jalur alternatif.

Mereka bakal membangunkan jalan lingkungan untuk akses warga.

“Tak perlu takut, akan kami bangunkan jalan alternatif bagi warga Alalak,” terang jelas Kepala Satuan Kerja PJN Kalsel I, Syahriliansyah dalam keterangannya.

Dia meminta warga Banjarmasin yang tinggal di kawasan Alalak Utara memahami pekerjaan ini. Pasalnya, pembangunan jembatan tersebut demi memudahkan masyarakat.

“Biasalah, kalau pembangunan suatu infrastruktur ada yang dikorbankan. Namun ke depan, warga akan mendapat kenyamanan. Mohon pengertiannya,” ujarnya.

Kasatker berharap, proyek prestisius ini berjalan sesuai rencana. Tak ada kendala hingga dapat selesai tepat waktu.

“Yang diuntungkan adalah warga Banjarmasin. Apalagi warga yang berada di sana. Jembatan ini akan menjadi ikon Kalsel,” tukasnya.

Sebelumnya, realisasi pembangunan jembatan ini sempat terhambat. Lantaran stempel dari Komisi Keamanan Jembatan dan Terowongan Jalan (KKJTJ) tak kunjung di dapat. Hingga pada akhir tahun lalu, Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional Wilayah XI Banjarmasin mendapat restu.

Tak ingin lama-lama, lelang pekerjaan pun langsung digeber. Hingga, jembatan yang memiliki panjang mencapai 850 meter dengan lebar 20 meter itu dimenangkan oleh kontraktor pelat merah.

Yakni PT Wijaya Karya (Wika) yang di sub kontraktorkan ke PT Pandji Bangun,  KSO dengan skema pekerjaan tahun jamak (multiyears). Mengunakan dana dari Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) senilai Rp 278 miliar.

Untuk diketahui, Jembatan tersebut didesain untuk dapat dilintasi kendaraan dengan tonase maksimal 10 ton, lebih kuat dari struktur jembatan lama Kayu Tangi 1 yang berasal dari rangka baja kelas B dengan kemampuan menahan beban kurang dari 8 ton. Selain itu, juga telah diperhitungkan kekuatan jembatan ini dengan konstruksi tahan gempa, dan masa layan hingga 100 tahun.

Selama pekerjaan Jembatan Sei Alalak, arus lalu lintas dialihkan ke Jembatan Kayu Tangi 2 dan seiring dengan diselesaikannya pembangunan jembatan tersebut, direncanakan juga akan dilakukan penghapusan (demolisi) Jembatan Kayu Tangi 1. Ke depan, diharapkan Jembatan Sei Alalak akan menjadi ikon baru Kota Banjarmasin. (Red/prokal)

Pos terkait