Vaksin Corona Sputnik V Buatan Rusia Yang Pertama Beredar Dengan Minim Efek Samping

Patroliindonesia |Jakarta – Saat ini terdapat sekitar 165 vaksin berbeda untuk COVID-19 yang sedang dikembangkan di seluruh dunia, dengan berbagai jenis utama dari vaksin termasuk vaksin berbasis vektor, tidak aktif, berbasis asam nukleat (DNA dan mRNA) dan rekombinan berbasis protein.

Vaksin berbasis vektor adenovirus Rusia telah didaftarkan oleh Kementerian Kesehatan Rusia pada 11 Agustus 2020 dan menjadi vaksin COVID-19 terdaftar pertama di pasaran.

Pengumuman tersebut menciptakan apa yang disebut “momen Sputnik” bagi komunitas global. Pada tahun 1957, keberhasilan peluncuran satelit ruang angkasa pertama oleh Uni Soviet menghidupkan kembali penelitian luar angkasa di seluruh dunia dan oleh karena itu, vaksin COVID-19 Rusia yang baru disebut Sputnik V.

Vaksin berbasis vector adenoviral bekerja dengan cara “Vektor” yang merupakan kendaraan, yang dapat menginduksi materi genetik dari virus lain ke dalam sel. Gen dari adenovirus, yang menyebabkan infeksi, dikeluarkan sementara gen dengan kode protein dari spike virus lain dimasukkan.

Unsur yang disisipkan ini aman bagi tubuh tetapi tetap membantu sistem kekebalan untuk bereaksi dan menghasilkan antibodi, yang melindungi kita dari infeksi.

Platform teknologi vektor berbasis adenovirus mempermudah dan mempercepat pembuatan vaksin baru melalui modifikasi vektor pembawa awal dengan materi genetik dari virus yang baru muncul yang membantu membuat vaksin baru dalam waktu yang relatif singkat.

Vaksin semacam itu memicu responds yang kuat dari sistem kekebalan manusia.

Adenovirus manusia dianggap sebagai salah satu yang termudah untuk direkayasa dengan cara ini dan oleh karena itu mereka menjadi sangat populer sebagai vektor.

Vaksin virus Corona COVID-19 yang dikembangkan Rusia ini telah berhasil menciptakan antibodi pada relawan dalam pengujian di fase 1 dan 2. Respons kekebalan yang didapatkan sukarelawan dari vaksin ini cukup untuk menangkal infeksi COVID-19.

Dalam jurnal yang diterbitkan The Lancet, vaksin yang diberi nama Sputnik V itu juga menyebabkan beberapa gejala ringan pada subjek penelitian.

Setengah dari subjek peneliti mengalami demam dan 42 persen mengalami sakit kepala. Sementara itu sekitar 28 persen mengeluh kelelahan dan 24 persen alami nyeri sendi.

Kirill Dmitriev, kepala Dana Investasi Langsung Rusia (RDIF), yang mendanai penelitian vaksin Rusia, menyebut saat ini vaksin Sputnik V sudah didistribusikan ke kelompok berisiko tinggi.

Vaksin yang dikembangkan oleh Pusat Epidemiologi dan Mikrobiologi Nasional Gamaleya ini telah uji klinis fase 3 pertengahan Agustus lalu yang melibatkan sekitar 40.000 orang dan Rusia berencana vaksinasi massal sebelum akhir tahun 2020.

Rusia telah memilih Korea Selatan sebagai salah satu negara untuk memproduksi vaksin Covid-19 buatan Rusia, Sputnik V. selain diproduksi di Rusia, Sputnik V juga akan diproduksi di India, Brasil, China, dan beberapa negara lain. (NN)

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *