MPI, Garut Jabar – Pembangunan tembok penahan tanah (TPT) di Kampung Barujati, Jalan Cikamiri, Desa Cintakarya, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, menuai tanda tanya. Proyek tersebut terkesan sebagai proyek siluman karena tidak diketahui sumber anggaran maupun nilai biaya yang digunakan.
Di lokasi pembangunan, tidak ditemukan papan informasi proyek sebagaimana lazimnya kegiatan yang menggunakan dana pemerintah. Ketiadaan papan informasi ini menimbulkan dugaan kurangnya transparansi dari pihak pelaksana proyek.
Selain persoalan informasi anggaran, kualitas pekerjaan TPT tersebut juga menjadi sorotan. Dari pantauan media di lapangan, pengerjaan proyek diduga dilakukan secara asal-asalan dan tidak sesuai spesifikasi teknis. Material yang digunakan pun dipertanyakan, salah satunya penggunaan semen merek Merdeka. Adapun panjang TPT yang dibangun diperkirakan mencapai kurang lebih sekitar 300 meter.
Upaya awak media untuk memperoleh keterangan dari pihak pemborong tidak membuahkan hasil. Para pekerja di lokasi saling melempar tanggung jawab dan tidak ada satu pun yang bersedia memberikan penjelasan resmi terkait proyek tersebut.
Salah seorang pekerja bahkan memberikan nomor kontak WhatsApp yang disebut sebagai milik penanggung jawab proyek. Namun, setelah dihubungi, nomor tersebut justru terhubung ke layanan Shopee Affiliates.
” Baik kak perkenalkan saya dari shopee affiliates Indonesia, kami sedang mencari calon mitra untuk membantu meningkatkan rating produk yang ada di shopee,” ujar nomor wa tersebut.
Peristiwa ini dinilai sebagai bentuk pelecehan terhadap kerja jurnalistik. Pemberian nomor yang tidak relevan tersebut diduga merupakan upaya menipu awak media yang tengah menjalankan tugas peliputan.
Kecurigaan masyarakat semakin menguat setelah salah satu tokoh setempat mengaku tidak pernah menerima informasi terkait pembangunan TPT tersebut, baik dari pihak pelaksana maupun pemerintah desa.
” menurut saya selaku masyarakat dengan adanya pembangunan Tpt awal nya juga tidak tahu juga kaget tiba tiba dibangun pekerjanya memang orang setempat sini cuma tidak bertahan lama di karenakan upah kerjanya minim padahal kami juga tahu ini pasti sumber anggarannya lumayan besar. tapi dari awal kami tidak melihatnya ,kalau dilihat pembangunan TPT nya asal asalan alias asal jadi saja pa,” ujarnya.
Tokoh masyarakat tersebut juga menyoroti kualitas material yang digunakan serta ketidakjelasan sumber pendanaan proyek.
“dilihat dari pasirnya kurang bagus,juga semen pake semen merdeka yang berkualitas harga murah,bahkan sampai sekarang pembangunan masih acak acakan kami juga selaku masyarakat tidak tahu dari mana sumber anggaran nya pihak desa pun tidak ada tembusan,” sambungnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pemborong maupun instansi terkait mengenai legalitas, sumber anggaran, serta spesifikasi teknis pembangunan TPT tersebut. Masyarakat berharap pemerintah daerah segera turun tangan untuk memastikan proyek berjalan sesuai aturan dan tidak merugikan kepentingan publik.
Jurnalist : H. Ujang Slamet













