MPI, SUMENEP – Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat (Kosabangsa) , pengembangan Desain Kampung Batik merupakan program dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Pusat (Kemdikbud) berupa program hibah yang anggarannya cukup fantastis sebesar Rp 280.000.000.
Dengan DRTPM program penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, memberikan kesempatan kepada dosen di Perguruan Tinggi untuk berkolaborasi menghasilkan penelitian yang dapat menjadi solusi dan inovasi ditengah kebutuhan dan tantangan masyarakat.
Namun sangat disayangkan dosen Universitas Wiraraja Sumenep Aryo Wibisono, ST. MM, sebagai ketua pelaksana, saat dikonfirmasi melalui sambungan telpon WhatsApp oleh awak media tidak mau menjawab, hanya menulis pesan WA singkat untuk menghubungi pimpinannya.
“Waalaikumsalam… Monggo bisa menghubungi pimpinan saya pak, kepala LPPM B.Anik,” Jelasnya, Rabu (13/12).
Dan ironisnya nomor telpon media yang pernah menghubungi Aryo semua diblokir, begitu juga B. Anik yang dibilang pimpinannya ketika dihubungi tidak pernah ngangkat telpon, apa lagi mau menjawab WA dari awak media.
Sampai berita ini dipublikasikan Aryo Wibisono selaku ketua Program hibah DRTPM dan sebagai dosen Universitas Wiraraja Sumenep tidak bisa dimintai keterangan / dihubungi, dan informasi terakhir menurut teman sesama dosen Aryo masih kuliah lagi di Malang.
Sedangkan Anik sebenarnya anggota Aryo bagian mendesain batik cap, yang juga berprofesi sebagai dosen di Universitas yang sama.
Mungkin B. Anik yang dikatakan pimpinannya, hanyalah akal akalan Aryo Wibisono untuk menghindari awak media.
Anggaran Rp. 280.000.000 yang tercantum di proposal pengajuan hanya bisa melakukan pelatihan 2 hari yang sebelumnya dikemas 5 hari, dengan peserta pelatihan 45 orang, 10 orang dari mitra Batik Pajjher dan 35 orang dari Karang Taruna Sanjaya.
“Dengan waktu 2 hari peserta itu bisa apa pak?, ini pelatihan batik tulis bukan batik cap,” Keluh ketua Karang Taruna Sanjaya Naufal Al Mahrosi, S. Ag saat di wawancara awak media dirumahnya.
Dan dirinya juga merasa baru sadar bahwa diperalat oleh oknum Universitas Wiraraja Sumenep. “Karena waktu pelatihan dan barang yang diberikan tidak sesuai dengan anggaran,” Jelasnya. Senin lalu (11/12/2023).
( Gusno )












