MPI, Jakarta – Paska Police Line di Lokasi Wilayah Pertambangan Rakyat (Manual) Desa Tobongon, Kecamatan Modayag, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), oleh satuan Kepolisian Polres Boltim, Kapolres Boltim AKBP Golfried Hasiholan Pakpahan mendapat sorotan tajam dari Sekretaris Jenderal (Sekjen), Aliansi Wartawan Independen Indonesia (AWII), Achmad Sujana.
Pasalnya Kapolres Boltim AKBP Golfried Hasiholan Pakpahan didampingi Kasat Reskrim IPTU Liefan Koliug terinformasi melakukan pertemuan sepihak dengan oknum penambang illegal, Idris Sudomo Mamonto, yang notabene salah satu dari pihak Penambang yang bersengketa.

Dalam dugaan, pertemuan itu ada kaitannya dengan pemasangan garis Police line di Tambang illegal yang sedang dalam permasalahan kedua belah pihak.
Sesuai data yang diperoleh awak media, sekitar pekan kemarin, Kapolres Boltim AKBP Golfried Hasiholan Pakpahan serta Kasat Reskrim IPTU Lifan Kolinug dan Penambang bernama Idris Sudomo serta ayahnya pada pekan kemarin diduga ada melakukan pertemuan di kawasan Mega Mall Manado secara sepihak.
Pertemuan itulah memunculkan sorotan tajam dari Joe’na (Sapaan Akrab-red) di DPP AWII. “Saya terima informasi bahwa Kapolres Boltim dan Penambang Idris Sudomo Mamonto, namun tidak dapat dikonfirmasi oleh awak media di lokasi. Diduga melakukan pembicaraan terkait lokasi tambang ilegal milik Idris Sudomo Mamonto yang di’police Line.” Ujarnya.

Diketahui, pertambangan illegal di lokasi Desa Tobongon, sejak Selasa, (5/8) telah dipasangi garis batas polisi (police line) oleh pihak Polres Boltim. Pemasangan garis polisi tersebut dikarenakan adanya permasalahan 2 (dua) kubu, yaitu antara pemilik lobang Idris Sudomo Mamonto dengan Hendra Jacob.
“Kondisi perselisihan, mestinya Kapolres Boltim tidak bisa melakukan pertemuan secara sepihak, kalaupun melakukan pertemuan untuk mencari solusi terbaik dari kedua belah pihak yang bermasalah dan bukan hanya melakukan pertemuan dengan Idris Sudomo Mamonto atau bisa melakukan bersamaan dengan Hendra Jacob. Memang alasan apa Pak Kapolres melakukan pertemuan hanya dengan pihak Idris,” Tanya Joe’na.
Kemudian Joe’na menambahkan, “dari hasil konfirmasi, identifikasi awak media dilapangan, beberapa warga mengetahui dan memberikan keterangan, yang mana hasil produksi emas di wilayah Tambang Tobongon yang telah didapat oleh Idris Sudomo Mamonto, sudah puluhan kilo emas, jadi ada dugaan di pertemuan itu, bahwa Kapolres dan Kasat membangun konspirasi dengan oknum penambang ilegal. (Milik Idris Sudomo Mamonto dan Ayahnya-red).
“Pertemuan Kapolres dengan Idris tanpa menghadirkan Hendra Jacob, akhirnya menimbulkan penilaian bahwa Kapolres dan Kasat Reskrim jelas berpihak kepada Idris S Mamonto. Dan Saya pun menduga Kapolres dan Idris terlibat pembicaraan permasalahan dan hasil tambang ilegal.” Ungkapnya.
“Jika dikemudian hari, hanya ada lubang di Tambang milik pihak Idris saja yang dibuka garis Policiline, sedangkan pihak lain masih terpasang, maka mungkin ada ketepatan dalam dugaan konspirasinya,” tegas Sekjen Dewan Pimpinan Pusat dari Aliansi Wartawan Independen Indonesia yang saat ini sebagai Pimpinan umum di Media Patroli Indonesia.
“Terkait pertambangan ilegal, saya akan meminta kepada pihak Kejagung RI dan dengan bersurat ditembuskan ke Kantor Staff Presiden, agar melalui Jampidsus Kejaksaan Agung, dapat menyelidiki dan memproses Hukum pihak Pertambangan illegal yang bebas mengambil kekayaan Negara dari kegiatan menambang emas secara ilegal selama ini, hingga mencapai kerugian negara yang tidak sedikit untuk memperkaya diri dan keluarganya.” Pungkasnya, pada Rabu (20/8/2025).

Kapolres Boltim yang saat dihubungi via pesan WhatsApp oleh wartawan Patroli Indonesia, dengan keterangan terkirim dan centang dua, namun hingga saat ini tidak mendapatkan respon balik.
Dan awak Media Patroli Indonesia akan terus berupaya mendapatkan informasi keterangan resmi dari Kapolres Bolaang Mongondow Timur AKBP Golfried Hasiholan Pakpahan.
Hingga saat berita ini ditayangkan, pihak dari Polres belum ada yang memberikan klarifikasi apapun. (*)












