Patroli Indonesia, Garut – Objek wisata baru yang terkenal di Kabupaten Cianjur yaitu Karang Potong Ocean View menjadi viral karena disebut memiliki keindahan. Namun, pada faktanya wisata yang terletak di daerah Saganten desa mekarlaksana kecamatan Sindangbarang, Kabupaten Cianjur itu memiliki fasilitas yang kurang baik.
Tarif mahal untuk masuk ke wisata tersebut tidak sebanding dengan fasilitas yang ditawarkan. Bahkan untuk sekedar mendapatkan air bersih saja, pengunjung kewalahan dan terpaksa wudhu dg air hujan yg turun dari langit juga adajuga yang tayamum ketika hendak sholat.
Hal itu dialami oleh keluarga besar H. Ujang Selamet yang berkunjung sekeluarga ke Karang Potong. Mereka terpaksa tayamum ketika hendak sholat.
H Ujang ketika masuk ke dalam toilet justru disuguhkan dengan pemandangan menjijikan. Toiletnya tergenang oleh air dan tidak ada air bersih di dalamnya.
“Saya sekeluarga terpaksa mengambil air wudhu dari hujan dan tayamum ketika sholat karena tidak ada air,” ujar H Ujang kepada patroli indonesia.
Senada dengan H Ujang, seorang pengunjung yang diwawancarai di Karang Potong juga menyesal telah masuk ke wisata tersebut. Ia membayar mahal bersama rombongan yaitu sebesar RP1,2 juta. Namun fasilitas yang disediakan tak sebanding dengan harga yang mahal.
Tak hanya fasilitas yang buruk, H Ujang juga berusaha konfirmasi kepada pengelola namun terkesan diabaikan dan disuruh menunggu lama. Kebetulan H Ujang yang berprofesi sebagai wartawan itu ingin menanyakan kepada pengelola perihal fasilitas.
Setelah menunggu lama, barulah H .Ujang dipersilahkan wawancara dengan Deden pengelola Karang Potong.
Namun yang mengejutkan, Deden pengelola justru menyerahkan urusan tersebut kepada Ketua PWI Cianjur kota bernama Ikbal.
“Kenapa ada backup dari wartawan? apa hubungannya wisata sama wartawan?. Seharusnya tidak boleh wartawan membackup wisata,” kata H Ujang.
Deden pengelola pun menelpon Ikbal. Namun Ikbal juga rupanya malu ketika berbicara dengan H. Ujang dan dia menyerahkan kembali urusan tersebut kepada Deden. Karena Ikbal tahu bahwa urusan berita harusnya konfirmasi langsung kepada pengelola dan bukan urusan wartawan. Karena wartawan tugasnya adalah membuat berita, bukan jadi sekuriti. (Saepul Zihad)













