MPI, Tangerang – Menyikapi terjadinya Laka (Kecelakaan) Lantas (Lalu Lintas) pada hal terkait Study Tour, yang menjadi perhatian publik, seharusnya peran dari Kementerian Pendidikan dan pihak sekolah terkait bisa mempertanggung jawabkan sepenuhnya.
Dilansir dari pemberitaan yang telah tayang di Media TEMPO.CO, Jakarta – Bus rombongan siswa SMK Lingga Kencana mengalami kecelakaan di Subang, Jawa Barat pada Sabtu malam, 11 Mei 2024. Kecelakaan ini terjadi saat rombongan 112 siswa dan 28 guru sekolah asal Depok itu mengadakan perpisahan kelas XII di Bandung pada 10 sampai 11 Mei. Dengan link Berita: https://nasional.tempo.co/read/1868372/kisah-haru-korban-bus-siswa-smk-lingga-kencana-depok-demi-ikut-study-tour-rela-jadi-kuli-bangunan
Klik aja Link Berita YouTube ini: Tokoh Artis dari Parfi Annisa Queen juga turut berkomentar.
Menyoroti dampak kegiatan Study Tour yang kerap kali dilakukan banyak sekolah seperti itu pun membuat koreksi langkah bijaksana dari para tokoh agar tidak melanjutkan giat tersebut dan meminta pihak Kementerian Pendidikan ataupun Dinas Pendidikan di sejumlah wilayah, agar bisa mengevaluasi dan mengganti dengan kegiatan lainnya.
Tidak terkecuali Achmad Sujana yang selaku tokoh Aktivis di ranah Pers pun mendukung statement pada pemberitaan rekannya, bang Gunawan dari Asosiasi Wartawan Demokrasi Indonesia (AWDI), yang juga telah tayang di:
Berita yang hampir sama juga telah tayang di beberapa Media online nasional sebelumnya, Kamis (16/05/2024).
“Mengingat ini adalah program dari dunia pendidikan yang perlu dievaluasi lebih lanjut tentang Ruang dan areal Belajar para pelajar yang tersesuai agar dapat mengantisipasi kemungkinan lain juga,” Ujar Achmad Sujana yang biasa disapa Bang Joe’na.

Lebih lanjut, ia katakan bahwa Lakalantas yang kembali terjadi pada (11/05) kemarin yang telah menjadi musibah bagi keluarga pada para pelajar yang menjadi korban laka.
“Seharusnya pemerintah bisa lebih tegas lagi mengatur larangan Study tour ataupun acara perpisahan luar kota yang berjarak jauh buat para pelajar, terlebih jika Disdiknya tidak bisa membiayai akomodasi perjalanan itu, malah membebankan kepada para pelajar.” Cetusnya.
Menurutnya, karna sekolah tidak mampu seleksi unit kendaraan yang layak ataupun Supir Profesional yang bersertifikasi dan telah terbukti teruji dengan kemampuan dan SIM B1 Umumnya dan juga Pernyataan pertanggung jawaban dari Perusahaan Bis sebagai penjamin keamanan Armada dan para personil supirnya.
“Dan dampak lainnya menurut saya adalah kesenjangan sosial antara siswa siswi yang mampu dan tidak mampu, baik di sekolah negeri ataupun swasta. Karena jika kegiatan itu menjadi suatu keharusan dan program penyempurnaan kurikulum sekolah negeri ataupun swasta, seharusnya pihak Disdik atau sekolah dan Yayasan harus mampu memanajerial dengan system’ subsidi silang, sehingga siswa lain yang kondisi ekonomi orangtuanya yang kurang mampu pun bisa terbiayai dari siswa lain yang orangtuanya mampu ataupun dari Kas Sekolah / Yayasan yang seringkali mendapat bantuan juga dana hibah dari berbagai sumber.” Papar Joe’na.
“Jika tidak penting, dahulukan lah bantuan sekolah untuk untuk program belajar yang sesuai jadwal di dalam lingkungan sekolah dengan berbagai exskul untuk pendidikan agama dan budaya sebagai tambahan dari pelajaran moral dan umum lainnya.” Imbuhnya.
“Ooiya, untuk program liburan bagi para guru, sebaiknya Kemendik ataupun pihak Disdik membuat program terjadwal setiap tahunnya atau per semester seperti acara Gathering. Dan sebaiknya dibiayai oleh negara dari uang pajak rakyat melalui dana BOS, agar resmi.” Ujar Joe’na, memberikan masukan agar bisa tercipta suasana kebersamaan liburan bagi para guru secara nasional yang diprogram melalui PGRI atau asosiasi Guru nasional tanpa harus melibatkan para murid lagi.
“Seringkali himbauan melalui Perda ataupun Perwal tentang larangan tersebut dibeberapa daerah, namun para oknum guru yang selalu merencanakan program tahunan setiapkali momentum kelulusan sekolah.” Jelas Joe’na. Seperti contoh pada pemberitaan yang telah tayang di tahun 2023 lalu, di Link berita ini:
https://megapolitan.kompas.com/read/2023/02/17/11080971/pemkot-tangerang-larang-study-tour-untuk-siswa-sd-smp-disdik-outing-class?page=all#google_vignette
Selain turut mengkoreksi dunia pendidikan di kegiatan Study Tour, bang Joe’na juga soroti Program Zonasi untuk PPDB tahun 2024 ini. Dirinya meminta pihak Pendidikan evaluasi dan buat pembaharuan aturan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) kedepannya.
“Selanjutnya, Kemendik juga wajib evaluasi dan koreksi program Zonasi untuk PPDB, karna tidak semua bisa dihitung sesuai jarak dan jangkauan pemukiman terdekat dengan sekolah yang tersedia, mengingat tatanan dan pemetaan sebelumnya, zona pendidikan menumpuk beberapa sekolah di suatu areal yang cukup berjarak jauh dari pemukiman desa ataupun perumahan, dan disisi lainnya, banyak perumahan baru yang terletak jauh dari areal sekolah tersebut. Sehingga aturan yang telah diatur kuota siswa sesuai jumlah pertumbuhan yang tidak bisa diprediksi pun menjadi dilema bagi masyarakat yang awam dalam mengurus hal terkait pendidikan putra dan putrinya.” Pungkasnya. (Tim**)












