SIPELE di PLTU Sumsel 8 PTBA 2×600 MW Muara Enim Mulai Beroperasi Maret 2022

Patroliindonesia.com Muara Enim, Sumsel – PLTU berkapasitas sebesar 2 x 620 mega watt (MW) ini merupakan bagian dari proyek strategis PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dengan nilai investasi mencapai US$ 1,68 miliar atau sekitar Rp 24,4 triliun (asumsi kurs Rp 14.500 per US$).

SIPELE di Sekitar PLTU 2×600 MW Muara Enim PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menargetkan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Mulut Tambang Sumsel 8 dapat mulai beroperasi penuh secara komersial pada Maret 2022.

“Saat ini PLTU Mulut Tambang Sumsel 8 sudah mencapai penyelesaian proyek sebesar 75,6% dan Pembangkit listrik ini diharapkan bisa beroperasi penuh secara komersial pada Maret 2022,” demikian dikatakan Dody Arsadian selaku Vice President HBAP dalam acara penyerahan sertifikat teknologi Slope Protection HBAP 21 atau SIPELE (Sistem Penguatan Lereng) dari IATI ke HBAP bertempat di kantor HBAP di daerah Kuningan Satrio Jakarta, Selasa (25/5/2021) lalu.

Proyek PLTU ini merupakan bagian dari proyek 35.000 MW dan dibangun oleh PTBA melalui PT Huadian Bukit Asam Power (PT HBAP) sebagai pengembang listrik (Independent Power Producer/ IPP). PT HBAP merupakan konsorsium antara PTBA dengan China Huadian Hongkong Company Ltd. Sertifikat Verifikasi Teknologi untuk “Slope Protection HBAP 21” – atau SIPELE (Sistem Penguatan Lereng) dari Ikatan Auditor Teknologi Indonesia (IATI) diserahkan oleh Sekretaris Jenderal IATI Bapak Yanto Sugiharto kepada Mr Zhou Qinke President Direktur PT Huadian Bukit Asam Power HBAP.

Teknologi “Slope Protection HBAP 21” – atau SIPELE (Sistem Penguatan Lereng) digunakan sebagai penahan longsoran tanah pada tebing area PLTU Sumsel 8 Muara Enim dengan luas 250 x 20 m2 dan menggunakan perpaduan teknologi antara angkur, lattice beam, anti slide pile dan honeycomb net. Dengan mengedepankan konsep hijau dan ramah lingkungan, maka pada area kosong antara lattice beam dan honeycomb net dapat ditanami dengan tanaman rumput sehingga lereng menjadi hijau dan alami.

Penggunaan Slope protection HBAP 21 atau SIPELE (Sistem Penguatan Lereng) sebagai penahan longsoran tanah pada tebing area PLTU Sumsel 8, Muara Enim adalah pilihan yang tepat dan perlu diapresiasi demikian dikatakan Pariatmono Sukamdo selaku ketua komite teknis IATI yang melakukan review dan verifikasi teknologi atas penggunaan teknologi ini Bersama anggota Tim Teknis lainnya.

Perpaduan teknologi antara angkur, lattice beam, anti-slide pile dan honeycomb net dimana material honeycomb net ini terbuat dari bahan geosintetik yaitu high-definition polyethylene (HDPE) dimana material ini berupa jaring 3 dimensi yang berbentuk seperti sarang lebah.

Metode perkuatan lereng menggunakan honeycomb net ini juga dikenal sebagai sistem pengekangan berbentuk sel (cellular confinement system) dimana cara kerjanya adalah mengurangi pergerakan lateral dari tanah sehingga dapat mempertahankan kepadatan dan membentuk matras kaku yang menyebarkan beban pada permukaan yang lebih luas.

Konsep “slope protection HBAP 21” atau- SIPELE (Sistem Penguatan Lereng) ini mengedepankan konsep ramah lingkungan, karena bisa ditanami rumput sehingga lereng menjadi hijau dan alami oleh karena itu layak mendapatkan sertifikasi teknologi ramah lingkungan dari IATI kata Yanto Sugiharto selaku sekjen IATI.

Beberapa hal lain manfaat penggunaan SIPELE adalah Mudah dalam konstruksi, Material yang dibutuhkan mudah didapat, Pelaksanaan pekerjaan konstruksi memberikan getaran dan kebisingan yang minimal, Konstruksi dapat menahan erosi permukaan, Menyatu dengan lingkungan sekitar dan bagian dari penghijauan, Mengamankan lingkungan sekitar dari potensi longsor serta Mudah dalam pemeliharaan/perawatan konstruksi dilakukan secara visual.

Proyek PLTU Mulut Tambang ini dibangun oleh Bukit Asam bersama China Huadian Hongkong Company Ltd, dan dikelola oleh PT Huadian Bukit Asam Power (HBAP) dengan total kapasitas sebesar 2×660 megawatt (MW).

Total investasi dari proyek ini mencapai US$ 1,68 miliar atau sekitar Rp 24,4 triliun (kurs Rp 14.500/US$). PLTU Mulut Tambang ini, menjadi yang terbesar di Indonesia dan paling efisien karena lokasinya di mulut tambang langsung, sehingga biaya produksi bisa rendan dan harga jual listrik yang sangat murah.

Untuk diketahui, PLTU Mulut Tambang merupakan bagian dari program 35.000 megawatt (MW) dan dibangun oleh PTBA melalui PT Huadian Bukit Asam Power (PT HBAP) sebagai independent Power Producer (IPP). PLTU itu merupakan pembangkit listrik mulut tambang yang terbesar dengan kapasitas 1.240 MW.

Nantinya proyek itu membutuhkan 5,4 juta ton batu bara per tahun. Listrik dari PLTU Mulut Tambang Sumsel 8 akan dialirkan untuk Sumatera grid menggunakan jalur transmisi extra high voltage 500 kV. Dari yang semula akan dialirkan ke Jawa menggunakan High Voltage Direct Current (HVDC), kini dialirkan untuk Sumatera grid.

Sementara itu Managing Director PT Presindo Dina Suryandari selaku mitra HBAP dan “event organizer” dalam proses verifikasi teknologi SIPELE mengatakan bahwa didalam pembangunan PLTU Mulut Tambang Sumsel 8 ada beberapa penggunaan teknologi baru selain SIPELE yang bisa meningkatkan kinerja PLTU menjadi pembangkit listrik dengan teknologi yang efektif dan efisien serta ramah lingkungan. (NN)

 

Pos terkait