PatroliIndonesia,Mbay– Mayoritas Petani penggarap lahan di Irigasi Mbay Flores NTT menolak kebijakan Pemda Nagekeo melalui Komisi Irigasi atas rencana penutupan air dalam waktu dekat.
Rencana penutupan air tersebut alih – alih untuk mengembalikan unsur hara tanah, tetapi sesungguhnya Pemda sedang berniat menyusahkan masyarakatnya sendiri. Hal ini disampaikan Sahrun Ndondo, penggarap sawah pada areal KM 2 3.1 Kanan,tepatnya di persawahan Kolikapa Mbay 1.
“Alasan yang tidak masuk akal. Bicara kembalikan unsur hara tanah itu mimpi di siang bolong. Sebab, metode tutup air bukan cara untuk kembalikan unsur hara tanah. Ini bikin kita tambah susah”. Ungkap Sahrun.
Alasan berikut, Pemerintah Kabupaten Nagekeo hendak mengalihkan pola tanam dari padi ke jenis tanaman palawija.
“Memangnya kalau tanam padi itu kenapa. Soal hasil panen itu rejeki, yang penting kita berusaha. Yang berikut, saat sekarang musim anak sekolah minta uang. Kita mau jual apa, kalau sawah tidak kerja. Aneh sekali pemerintah . Program 100 hari kok dengan tutup air. Tolong lah kalian wartawan itu sampaikan ke pak Bupati ,pertimbangkan kembali . Bisa mati kelaparan kita”. Tambahnya.
Senada dengan Sahrun Ndondo, Amril juga menyampaikan perihal Program penutupan air yang tidak dikaji secara baik. Atas kebijakan tersebut, Amril selaku petani merasa cemas mengingat ratusan hektar sawah yang masih membutuhkan air untuk saat ini.
“mengenai penutupan air, kami para petani dari KM2 3 .1 kiri, menolak penutupan air karena banyak padi yang sudah tanam, yang lagi membutuhkan air. Kasihan tanaman padi yang saat ini sudah keluar dan sedang butuh air. Lagipula kalau air ditutup kami mau kerja apa.Harapan kami kepada bapak bupati, tinjau kembali,sehingga tidak menyusahkan masyarakat”ucap Amril selaku penggarap sawah KM 2 3.1 Kiri.
Berbeda dengan Jamaludin, yang mengisahkan susahnya saat penutupan air beberapa waktu lalu yang memakan waktu lebih setahun. Jamaludin mengalami trauma ketika mendengar informasi bahwa akan ada penutupan air kali ini. Trauma berat Jamaludin yang kemudian disampaikan lewat media ini,untuk disampaikan kepada Bupati Nagekeo.
“waktu tutup air kali lalu, hidup keluarga kami sangat sulit. Kita dipaksakan membeli beras dengan harga 17 ribu rupiah . Anak kami sedang kuliah saat ini belum selesai. Apalagi ada isu tutup tanam lagi. Separuh sawah kita gadai,karena desakan anak kuliah .mau tidak mau kita gadai.Nah,kalau saat ini tutup lagi,kita mau kerja apa,mana kebutuhan hari- hari dan anak sekolah minta tiap minggu.seperti itu pak ,tolong kestau Mekas (Bapak) Bupati Nagekeo . Neka tutup waling. Sengsara ite”. Keluh Jamaludin dengan dialek Mbay sa’at ditemui PatroliIndonesia Rabu 07 Mey 2025.
Demikian juga disampaikan Matheus Meka. “Pemerintah bilang mau tanam ganti – ganti. Jangan padi saja. Saya rasa rugi ,karena beras harga lagi bagus. Dan pasarnya jelas. Habis giling langsung terima uang,karena pembeli langsung ke penggilingan . Berikutnya juga kalau padi ,kita bisa ijon di pembeli beras,kalau mendesak anak sekolah minta uang. Kalau tanam palawija ,kita pusing,mau lari ke siapa,pembeli juga kita tidak tau yang mana”. Ungkap Matheus dengan nada penuh pengharapan .
Menurut Matheus, para petani di Mbay sejak tahun 1970 an bisa hidup dan sekolahkan anak hanya dari sawah yakni dengan menanam padi. Jenis lain ditanam seperlunya saja, seperti jagung atau kedelai. “Tidak banyak paling 1 balok atau bedeng kecil, karena kami lebih nyaman tanam padi daripada lainnya”, lanjut Matheus.
Lasarus Lasa, mantan anggota DPRD Nagekeo juga angkat bicara soal rencana penutupan air tersebut. Lasarus yang saat ini mengolah sawah di KM 3.1 kiri mengkritik kebijakan Pemda soal pengalihan tanaman padi ke jenis palawija tanpa persiapan matang. Karena tidak semua lahan bisa ditanami jenis tanaman palawija.
“kesiapan bibit, kesiapan saprodi dan ketersediaan pasar. Apabila semua ke palawija dan hasil panen berlimpah, kemana produk dipasarkan dan siapa yang menghadirkan pembeli.”paparnya.
Mengingat 2 tahun kemarin telah dilakukan penutupan air disebabkan pengerjaan saluran primer, maka menurut Lasarus tahun 2025 pemerintah pending dulu. Masyarakat sa’at ini dihadapkan dengan kebutuhan yang cukup tinggi. Kebijakan pemerintah pusat dampaknya sampai ke daerah. Pemerintah diharapkan lebih Arif dan bijak dalam mengambil keputusan terkait dengan hajat hidup masyarakat.
“Secara pribadi saya menolak soal rencana penutupan air. Kemarin dua tahun kita tidak kerja apa – apa. Pemda Nagekeo juga harus tau, bahwa “Mbay itu lumbung Beras NTT, bukan lumbung palawija”. Fokus satu produk yang mayoritas petani kelola, jangan lompat sana,lompat sini.”demikian kata Lasarus.
Pantauan media ini, mayoritas petani di Mbay menginginkan kebijakan tutup air serta pengalihan jenis tanaman agar dikaji ulang dan dipertimbangkan kembali oleh Bupati Nagekeo sebagai pemegang keputusan tertinggi di daerah ini. (MPI).












