DPP AWII : Analisa dan Kajian Sumber Energi Baru Terbarukan PLTN Memang Dibutuhkan

PATROLI INDONESIA – JAKARTA, Lebih dari 7,9 juta orang di Texas, Amerika Serikat mengalami masalah dengan pasokan air, setelah cuaca dingin ekstrem melumpuhkan pembangkit listrik di negara bagian Texas, Amerika Serikat, mulai pukul 6 sore pada Senin, (22/2/2021), lebih dari 1.200 sistem air publik telah dilaporkan mengalami gangguan layanan karena cuaca dan Ini mempengaruhi lebih dari 7,9 juta orang, di 202 negara bagian Texas. Sebanyak 147 Public Water System/PWS (sistem air publik) tidak beroperasi, padahal PWS itu melayani populasi lebih dari 33.000 orang dan selain itu, 4 fasilitas pengolahan air limbah PWS telah dilaporkan tidak beroperasi.

Selain masalah air, warga Texas juga menghadapi tagihan listrik yang membengkak akibat krisis cuaca dingin, dimana cuaca dingin, yang melumpuhkan bagian selatan dan tengah Amerika Serikat pada awal pekan februari 2021 dan telah merenggut lebih dari 70 nyawa, menyebabkan jutaan orang hidup tanpa listrik untuk sementara waktu dan membekukan saluran air yang disebabkan jaringan listrik independen di Texas rentan terhadap cuaca ekstrem.

Cuaca ekstrem telah mengakibatkan tidak beropesinya pembangkit listrik konvensional dengan mengandalkan bahan baku batubara dan gas, dimana solusi terbaik mengatasi cuaca ektrem dalam hal ini adalah dengan pembangkit tenaga nuklir.

Saat ini pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar batubara mensuplai kurang dari 30% kebutuhan listrik Amerika Serikat, turun drastis dari angka 50% pada 1 dekade yang lalu.

Mulai dari Alabama ke Ohio hingga Michigan dan di banyak negara bagian lainnya, banyak pembangkit listrik tenaga batubara ditutup pengoperasiannya.

Selain itu, tidak ada generasi baru pembangkit listrik tenaga batubara yang dikembangkan, sementara dilain pihak dibutuhkan investasi yang cukup besar di sumber energi angin dan tenaga surya mungkin muncul untuk menjadi solusinya, namun energi terbarukan ini tidak mampu memenuhi target yang diharapkan.

Meskipun sudah puluhan milyar dollar digunakan untuk menyubsidi pengoperasian sumber energi terbarukan, sumber energi tenaga angin dan surya hanya menyuplai 7 % dari kebutuhan listrik Amerika Serikat dan keduanya pun masih bermasalah dalam hal reliabilitas.

Hingga kita memiliki unit penyimpanan energi listrik, sumber energi angin dan surya masih memerlukan cadangan sumber energi dari pembangkit listrik tenaga gas untuk menjaga kestabilan suplai listriknya.

Lalu apa solusi untuk memenuhi kekurangan kebutuhan suplai listrik yang disebabkan berhentinya pengoperasian pembangkit listrik tenaga batubara? Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) adalah pilihan terbaik.

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dinilai menjadi salah satu solusi terbaik untuk mengatasi kelangkaan listrik akibat cuaca ektrem yang mendunia dan juga dapat meningkatkan elektrifikasi secara menyeluruh di daerah seperti Indonesia, pembangkit tenaga nuklir itu bagus dan harga jual listriknya terjangkau sehingga industri juga bisa mencapai keekonomian, sebagai contoh untuk industry boros energi seperti smelter/ bauksit, harga keekonomian harusnya 6 sen dolar/kwh, namun yang terjadi sekarang adalah harganya 12 sen dolar/kwh, oleh karena itu PLTN menjadi harapan energi murah.

Faktor keamanan dan keselamatan bisa dikatakan menjadi penyebab mengapa sampai sekarang mayoritas masyarakat Indonesia masih menolak keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) meski Indonesia telah memiliki pengalaman bidang ketenaganukliran sejak puluhan tahun lalu. Terlebih, sejak adanya kecelakaan PLTN di Fukushima, Jepang dan Chernobyl di Ukraina, membuat masyarakat semakin memiliki stigma bahwa nuklir itu berbahaya.

Namun demikian, dengan perkembangan teknologi nuklir saat ini, ada teknologi PLTN yang cocok bagi Indonesia. Dia mengatakan, PLTN yang cocok digunakan di Indonesia adalah generasi 3 plus atau 4. Karena memiliki keselamatan pasif yang mampu atasi potensi bencana seperti yang terjadi di Chernobyl dan Fukushima.

Sebagai contoh PLTN dalam bentuk Reaktor Modular Kecil (SMR), SMR bukan hanya unggul dalam segi ukurannya yang lebih kecil dibanding reaktor-reaktor nuklir yang sekarang ini banyak digunakan, namun SMR bisa di produksi di pabrik dengan standarisasi komponen modular.

Saat sudah jadi, bisa langsung dikirim menggunakan truk ataupun kereta api ke tempat tujuan.

Perusahaan energi bisa memesan hanya 1 maupun 2 unit SMR, atau mereka bisa memesan hingga sebanyak 12 unit yang bisa di integrasikan bersama sama dalam satu area yang diperkirakan mampu mensuplai kebutuhan listrik satu kota kecil.

Satu cara pendekatan baru terhadap penggunaan tenaga nuklir pada bidang energi yang berbasis kepada solusi tersebut akan menjadi penentu vital.

Dibandingkan dengan biaya pembangunan satu reaktor nuklir berukuran besar yang memerlukan anggaran hingga $10 milyar dan waktu pembangunan hingga 10 tahun, harga 12 unit SMR hanya menghabiskan anggaran sebesar $3 milyar dan waktu 3 tahun dalam pembangunannya.

Dengan meningkatnya kebutuhan akan sumber energi yang reliabel dan bebas akan emisi, penggunaan SMR sebagai alternatif dari PLTN ukuran besar harusnya menjadi pilihan yang mudah, namun dibalik kemudahan itu terdapat rintangan, dimana proses mendapatkan lisensi atas desain SMR bukanlah hal yang gampang, walaupun dasar teknologi dan sistem keamanan yang digunakan secara prinsip sama dengan yang digunakan PLTN ukuran besar.

Dengan belajar dari kecelakaan nuklir di Chernobyl, maka yang perlu dilakukan adalah keterbukaan. Perlu disampaikan kepada publik seperti apa teknologi nuklir.

Sementara dari kecelakaan di Fukushima, tantangannya menurutnya yaitu bagaimana mencari lokasi di mana potensi tsunami dan gempanya kecil.

Beberapa tempat di wilayah di Indonesia bisa dijadikan opsi pembangunan PLTN antara lain di Kalimantan dan Bangka.

Jika Indonesia mau membangun PLTN, hanya dibutuhkan teknologi yang relatif lebih baru daripada Chernobyl dan Fukushima, selain itu dari semua pembelajaran tersebut, yang lebih penting menurutnya adalah dukungan dari masyarakat
Menurut survey nasional selama 2014-2016, dukungan masyarakat terhadap nuklir di atas 70%. Bahkan, survey terakhir di Kalimantan Barat (Kalbar) pada 2019 mencapai 87,17% yang mendukung PLTN.

Berdasarkan survey dari Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) beserta lembaga lainnya, tingkat penerimaan masyarakat cenderung meningkat, meski sebelumnya sempat turun sampai 40% saat terjadi kecelakaan di Fukushima. Namun kemudian naik lagi sampai di atas 60%.

Indonesia masuk dalam ring of fire, sehingga harus mencari tempat dengan potensi gempa yang rendah, seperti di Jawa ada Semenanjung Muria, Jepara, lalu di Bangka dan juga Kalimantan.
(NN)

 

 

Pos terkait