Sragen, Patroli Indonesia – SMPN 6 Sragen tampil sebagai pusat inovasi pendidikan dengan menyelenggarakan pelatihan strategis bagi guru SMP dan SMA se-Kabupaten Sragen. Agenda ini mengangkat tema Pembelajaran Mendalam (PM) sebagai respons atas kompleksitas tantangan pendidikan modern. Melalui pelatihan ini, guru diarahkan memperbarui paradigma mengajar sekaligus meningkatkan kapasitas profesional demi menjawab tuntutan zaman, Sabtu, (30/8/2025).
Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Sragen, Sukisno, S.Pd., M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada para narasumber serta seluruh peserta yang telah berpartisipasi dalam kegiatan pelatihan pembelajaran mendalam ini. Beliau menegaskan bahwa pelatihan semacam ini merupakan langkah strategis dalam upaya peningkatan kompetensi guru SMP dan SMA di Kabupaten Sragen. Harapannya, ilmu dan pengalaman yang diperoleh dapat diimplementasikan secara nyata di kelas, sehingga kualitas pembelajaran semakin meningkat dan berdampak positif bagi mutu pendidikan di Sragen.
Kegiatan tersebut menghadirkan tiga narasumber berkompeten, yakni Mujono, S.Pd., M.Pd. dari SMAN 1 Sumberlawang, M. Sholihul Amri, M.Pd.I. dari STIT Madina Sragen, serta Nina Arista, M.Pd. dari SMAN 2 Sragen. Ketiganya menyajikan materi yang menyeluruh, mulai dari konsep dasar hingga praktik implementasi pembelajaran di kelas. Kolaborasi ini menghadirkan dinamika akademis yang kaya sekaligus memberi inspirasi baru bagi peserta.
Narasumber Pertama, Mujiono, S.Pd., M.Pd., dalam pemaparannya menekankan pentingnya pola pikir bertumbuh (growth mindset) sebagai fondasi membangun generasi emas Indonesia. Menurutnya, guru harus menanamkan pada peserta didik keyakinan bahwa kecerdasan dan kemampuan dapat terus berkembang melalui usaha, latihan, serta ketekunan. Dengan pola pikir ini, siswa tidak mudah menyerah saat menghadapi kesulitan, tetapi justru melihat tantangan sebagai peluang untuk belajar. Mujiono menegaskan bahwa keberhasilan menuju Indonesia Emas 2045 hanya bisa dicapai jika pendidikan mampu melahirkan individu-individu tangguh, adaptif, dan memiliki kepercayaan diri untuk terus meningkatkan kapasitas dirinya.
Sedangkan pemateri kedua, M. Sholihul Amri, M.Pd.I, menegaskan bahwa guru di era sekarang dituntut untuk menjadi sosok yang tidak sekadar mengajar materi, tetapi juga mendidik, membimbing, dan menginspirasi peserta didik. Melalui penerapan pembelajaran mendalam, guru diharapkan mampu menumbuhkan daya pikir kritis, kreativitas, serta kemampuan inovatif siswa agar siap menghadapi tantangan kehidupan yang semakin kompleks. Ia menambahkan, transformasi pendidikan tidak bisa hanya bertumpu pada aspek kognitif, melainkan juga harus mengintegrasikan nilai, sikap, dan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Materi yang dipaparkan tidak berhenti pada teori belaka. Peserta dibimbing menanamkan pola pikir bertumbuh (growth mindset) sebagai fondasi perubahan paradigma pembelajaran. Kerangka kerja PM juga dijelaskan secara sistematis, sehingga guru memperoleh panduan jelas dalam merancang kegiatan belajar yang lebih bermakna dan kontekstual.
Selain itu, para guru mendapat penguatan terkait prinsip dan pengalaman belajar PM, yang menitikberatkan pada keterlibatan aktif siswa. Dengan pendekatan ini, siswa tidak hanya diminta menghafal materi, melainkan diajak menghubungkan pengetahuan dengan realitas sehari-hari. Orientasi ini menjadikan pembelajaran lebih hidup, aplikatif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Aspek asesmen dalam PM turut menjadi bahasan penting. Guru diarahkan meninggalkan pola penilaian semata-mata berbasis angka, menuju pemetaan kompetensi yang komprehensif. Fokus penilaian meliputi kemampuan berpikir kritis, kreativitas, hingga keterampilan memecahkan masalah secara kolaboratif. Dengan begitu, asesmen berfungsi sebagai sarana pengembangan potensi, bukan sekadar alat ukur kognitif.
Lebih lanjut, sesi pelatihan menekankan pentingnya tiga tahap utama: perencanaan, implementasi, dan refleksi pembelajaran. Perencanaan yang matang diyakini menjadi pondasi keberhasilan. Implementasi dengan strategi variatif mampu meningkatkan motivasi dan keterampilan siswa. Sementara refleksi berkelanjutan memberi ruang bagi guru untuk memperbaiki kelemahan, sehingga kualitas pembelajaran dapat terus ditingkatkan.
Salah satu pendekatan unggulan yang diperkenalkan adalah inkuiri kolaboratif. Model ini mendorong siswa untuk terbiasa berpikir kritis, mengajukan pertanyaan bermakna, serta membangun pengetahuan bersama dalam kerja tim. Inkuiri kolaboratif diyakini sebagai kunci dalam menyiapkan generasi adaptif dan inovatif, yang siap menghadapi tantangan era digital.

Antusiasme peserta menjadi bukti bahwa pelatihan ini relevan dengan kebutuhan pendidikan kontemporer. Guru menyadari bahwa pembelajaran mendalam bukan sekadar metode, melainkan strategi membentuk siswa yang unggul akademis sekaligus tangguh menghadapi dinamika kehidupan. Dengan bekal konsep dan praktik yang diperoleh, diharapkan para guru mampu mentransformasi ruang kelas menjadi laboratorium hidup. SMPN 6 Sragen pun layak disebut sebagai laboratorium perubahan pendidikan, yang menularkan semangat inovasi ke seluruh sekolah di Sragen.
Penulis: Sukamdi, Patroli Indonesia I Biro Sragen












