MPI, Pohuwato – Kepala Puskesmas (Kapus) Popayato, Hanny W. Muliku, memberikan klarifikasi resmi atas insiden pelayanan kesehatan yang sempat menjadi perhatian publik. Klarifikasi ini bertujuan untuk menjelaskan duduk perkara dan langkah-langkah yang akan diambil untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Peristiwa bermula pada Senin malam 02 Desember 2024 ketika Doddy Daud membawa putrinya yang berusia empat tahun, Syakillah Arafah Daud, ke Puskesmas Popayato untuk perawatan intensif. Karena keterbatasan ruang perawatan anak, pasien sementara dirawat di ruang pasien pria dewasa. Situasi ini diterima oleh pihak keluarga dengan alasan keterdesakan.
Namun, pada Selasa malam 03 Desember 2024, sekitar pukul 23.00, pasien diminta dipindahkan ke ruang ibu hamil (bumil) untuk mengakomodasi pasien baru. Penolakan pihak keluarga terjadi karena kekhawatiran terhadap kenyamanan anak yang baru saja tertidur. Hal ini memicu respons kurang tepat dari salah satu tenaga kesehatan yang dianggap tidak etis oleh keluarga pasien.
Akibat insiden ini, keluarga pasien memutuskan untuk membawa pulang anak mereka pada tengah malam.
Hanny W. Muliku menjelaskan bahwa SOP di Puskesmas Popayato telah dijalankan sesuai standar, meskipun diakui bahwa masih ada celah dalam etika komunikasi beberapa tenaga kesehatan. Ia juga menyampaikan bahwa pihak keluarga pasien telah meminta maaf secara langsung atas kesalahpahaman yang terjadi.
“Keluarga pasien telah menyampaikan permintaan maaf secara kekeluargaan. Saya menghargai niat baik tersebut, dan kami sepakat untuk menyelesaikan masalah ini secara damai,” ungkap Hanny.
Permintaan maaf ini disampaikan langsung oleh keluarga pasien di hadapan anggota DPRD Pohuwato, Rizki Alhasni, yang turut hadir sebagai saksi.
Hanny menekankan pentingnya perbaikan dalam etika komunikasi tenaga kesehatan untuk mencegah terulangnya kesalahpahaman serupa. Evaluasi internal akan segera dilakukan, melibatkan seluruh staf di Puskesmas Popayato.
“Kami akan fokus pada pembinaan etika komunikasi dan pelayanan yang humanis. Semua tenaga kesehatan harus mampu memberikan layanan yang profesional dengan tetap mengedepankan empati terhadap pasien,” tambahnya.
Selain evaluasi, Puskesmas juga membuka pintu bagi masyarakat untuk memberikan kritik dan saran yang membangun sebagai bagian dari upaya perbaikan pelayanan.
Hanny memastikan bahwa Puskesmas Popayato akan terus berkomitmen memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. Ia juga mengajak masyarakat untuk menjadikan insiden ini sebagai pelajaran bersama.
“Kami berkomitmen untuk meningkatkan kualitas pelayanan di semua lini. Kritik dan masukan masyarakat sangat berarti bagi kami dalam menciptakan pelayanan kesehatan yang lebih baik,” tutup Hanny.
Dengan adanya klarifikasi ini, diharapkan masyarakat dapat memahami situasi yang terjadi dan mendukung upaya perbaikan pelayanan di Puskesmas Popayato. Red












