Sragen, MPI – Pemilihan Presiden Mahasiswa STIT Madina Sragen periode 2026/2027 berlangsung demokratis, tertib, dan transparan. Seluruh tahapan pemilu yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Mahasiswa menunjukkan partisipasi aktif mahasiswa sebagai indikator kematangan demokrasi di lingkungan kampus. (31/01/2026)
Berdasarkan hasil rekapitulasi resmi, Azharul Khusaini meraih suara terbanyak dengan 45,07 persen, mengungguli tiga kandidat lainnya. Hasil tersebut menempatkan Azharul sebagai Presiden Mahasiswa terpilih dan merepresentasikan kepercayaan mayoritas mahasiswa terhadap visi, gagasan, serta kapasitas kepemimpinannya.
Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan STIT Madina Sragen, Putri Agustina, M.Pd., menegaskan bahwa pemilihan Presiden Mahasiswa tidak sekadar menjadi agenda rutin organisasi kemahasiswaan. Menurutnya, pemilu Presma merupakan wahana strategis untuk menumbuhkan nilai kepemimpinan, integritas, dan tanggung jawab di kalangan mahasiswa.
Ia menjelaskan bahwa proses pemilihan secara langsung juga berfungsi sebagai media pembelajaran nyata bagi mahasiswa dalam mempraktikkan demokrasi secara sehat dan beretika. “STIT Madina memandang proses ini sebagai bagian integral dari pendidikan karakter sekaligus pembentukan calon pemimpin masa depan bangsa,” ujarnya.
Putri Agustina berharap, melalui mekanisme pemilihan Presma secara langsung, dapat lahir pemimpin mahasiswa yang amanah, berintegritas, dan mampu bersinergi dengan seluruh civitas akademika demi kemajuan institusi dan penguatan peran mahasiswa.
Ketua KPU Mahasiswa STIT Madina Sragen, Aulia, menegaskan bahwa pemilu Presma 2026 dilaksanakan sepenuhnya sesuai pedoman yang berlaku. Ia memastikan seluruh proses berjalan objektif, transparan, dan akuntabel, tanpa adanya manipulasi maupun kecurangan.
“Mulai dari pendaftaran bakal calon, kampanye, penyampaian visi-misi, sesi tanya jawab, hingga pemungutan dan penghitungan suara, semuanya dilaksanakan secara terbuka dan terawasi. Dengan sistem pengawasan tersebut, tidak ada ruang bagi manipulasi,” ujar Aulia.
Ia menambahkan bahwa selisih suara yang cukup signifikan mencerminkan pilihan rasional pemilih. Mahasiswa dinilai tidak sekadar mempertimbangkan popularitas, tetapi menilai rekam jejak, kualitas gagasan, serta komitmen calon terhadap kepentingan kolektif mahasiswa STIT Madina Sragen.

Adapun kandidat lain masing-masing memperoleh suara Muh. Ibnu Alfan (28,17 persen), Jihan Atila (18,31 persen), dan Meida Cesillia P. (8,45 persen). KPU Mahasiswa menilai seluruh kandidat telah berkontribusi menghadirkan kontestasi yang sehat, edukatif, dan bermartabat sebagai bagian dari proses pembelajaran demokrasi kampus.
Menanggapi hasil pemilu, Azharul Khusaini menyampaikan bahwa kemenangan tersebut bukan semata pencapaian personal, melainkan amanah kolektif. Ia menegaskan komitmennya untuk mendengarkan aspirasi, membangun sinergi, dan menghadirkan BEM STIT Madina yang lebih aktif serta bermanfaat bagi mahasiswa.
“Hasil ini adalah kepercayaan bersama. Saya mengajak seluruh elemen kampus mahasiswa, alumni, dosen, dan pimpinan untuk bergerak bersama melalui langkah-langkah kecil namun konsisten demi perubahan nyata,” ungkap Azharul.
Dengan ditetapkannya Azharul Khusaini sebagai Presiden Mahasiswa periode 2026/2027, civitas akademika berharap lahir kepemimpinan mahasiswa yang progresif, kritis, dan beretika. Kemenangan ini dipandang sebagai awal tanggung jawab kepemimpinan untuk memperkuat peran strategis mahasiswa dalam kemajuan institusi.
Penulis: Sukamdi, Media Patroli Indonesia I Biro Sragen














