MPI, Manado – Pergeseran pemimpinan di tubuh Bank Sulawesi Utara Gorontalo (BSG) bukan sekadar rotasi jabatan. Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS LB) yang digelar di Kantor Pusat BSG, Selasa (10/2/2026), menjadi momentum konsolidasi kekuatan pemegang saham sekaligus penajaman arah strategis bank daerah tersebut untuk lima tahun ke depan.

RUPS LB dipimpin langsung oleh Pemegang Saham Pengendali (PSP), Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus, SE, bersama perwakilan PT Mega Corpora sebagai pemegang saham strategis. Komposisi forum ini menegaskan bahwa keputusan yang diambil bukan sekadar administratif, melainkan strategis dalam lanskap ekonomi daerah.
Keputusan paling krusial adalah penunjukan Vicky Lumentut (GSVL) sebagai Komisaris Utama, menggantikan Ramoy Markus Luntungan (RML). Informasi yang dihimpun Patroli Indonesia menyebutkan, keputusan tersebut disepakati secara bulat oleh pemegang saham.
Konsolidasi Pengaruh dan Arah Pengawasan
Masuknya GSVL ke pucuk Dewan Komisaris dinilai sebagai langkah konsolidasi figur berpengaruh yang memiliki pengalaman panjang di birokrasi dan politik lokal. Mantan Wali Kota Manado dua periode itu dikenal memiliki jaringan kuat di pemerintahan dan sektor usaha.
Seorang peserta RUPS menyebutkan, figur GSVL dianggap mampu memperkuat fungsi check and balance di tengah meningkatnya tuntutan tata kelola perbankan yang transparan dan akuntabel.
“BSG butuh figur yang memahami karakter daerah sekaligus mampu membaca dinamika ekonomi dan regulasi. Pengalaman beliau menjadi modal penting,” ujar sumber internal.
Penunjukan ini juga dibaca sebagai upaya mempertegas posisi BSG di tengah persaingan bank pembangunan daerah (BPD) secara nasional, yang kini menghadapi tekanan konsolidasi modal inti, digitalisasi layanan, serta pengawasan ketat dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Stabilitas Direksi, Sinyal Kontinuitas
Di sisi lain, posisi Direktur Utama tetap dipercayakan kepada Maudy R. Pepah. Keputusan ini mengirimkan sinyal stabilitas operasional dan kesinambungan kebijakan bisnis.
Langkah mempertahankan direksi inti sekaligus memperkuat struktur komisaris menunjukkan strategi dua arah: menjaga kesinambungan manajemen, namun mempertegas pengawasan dan arah kebijakan korporasi.
Dalam pernyataannya, GSVL menegaskan komitmennya untuk menjalankan amanah sesuai regulasi.
“Ini merupakan tugas dan tantangan baru. Amanah ini akan saya jalankan dengan penuh tanggung jawab serta patuh pada arahan pemegang saham,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa komisaris tidak hanya mengawasi, tetapi memberi nasihat strategis agar bank tetap sehat dan kompetitif.
Tantangan Lima Tahun ke Depan
BSG menghadapi sejumlah agenda besar:
Penguatan struktur permodalan.
Ekspansi kredit produktif yang berkualitas.
Transformasi digital.
Penguatan manajemen risiko dan kepatuhan.
Konsolidasi hubungan dengan pemerintah daerah sebagai pemegang saham mayoritas.
Dengan komposisi baru ini, publik akan menyoroti sejauh mana Dewan Komisaris mampu memastikan tidak terjadi intervensi politik yang berlebihan dalam kebijakan bisnis bank, sekaligus menjaga BSG tetap profesional.
Bank daerah bukan hanya instrumen ekonomi, tetapi juga cermin tata kelola pemerintahan daerah. Karena itu, setiap perubahan struktur pengurus selalu memiliki dimensi strategis yang lebih luas.
Apakah kepengurusan baru ini mampu membawa BSG naik kelas di kancah nasional? Waktu dan kinerja yang akan menjawab.
Susunan Komisaris dan Direksi BSG Periode 2026–2031
Dewan Komisaris
Komisaris Utama: Vicky Lumentut
Komisaris: Jacklien Koloay
Komisaris: Rania Riris Ismail
Komisaris: Djafar Alkatiri
Komisaris: Diane Nd
Komisaris: Max Kembuan
Direksi
Direktur Utama: Maudy Revino Pepah
Direktur Kepatuhan: Mutesa Holdin
Direktur Umum: Joubert Dondokambey
Direktur Operasional: Louisa Parengkuan
Direktur Dana & Trisuri: Rudiyanto Katili
Direktur Kredit: Esther rampengan
(sw)












