MPI Pangandaran – Belasan anak tertawa riang di Bendungan Matras Ciputrapinggan, Jalan Raya Sukahurip, Desa’ Sukahurip, Kecamatan Pangandaran’, Kabupaten Pangandaran’ Regency, West Java 46396. Hutan nan lebat jadi latar belakang keseruan mereka.
Seorang peserta didik bercerita sambil memegang sebuah buku. Ia ditemani dua temannya. Sementara teman-teman lainnya menyaksikan mereka dari atas tumpukan Batu alam nan’ besar. Lima anak dalam posisi duduk dan lima lainnya berdiri. Hal ini adalah sekelumit gambaran praktik baik pembelajaran menyenangkan yang dihadirkan oleh para guru di daerah tersebut.
“Belajar sambil bermain di Alam terbuka dan tidak jauh dari tempat menuntut ilmu, selain itu juga berfungsi sebagai wadah untuk mengembangkan keterampilan dan perubahan sikap dan perilaku peserta didik. yang menyatu dengan alam sekitar membuat peserta didik lebih bahagia, berani, dan percaya diri akan kemampuan yang dimilikinya,” kata Guru MI Al-Musri’ Babakan Pangandaran’, dalam keterangan, Pada hari’ Kamis kemarin. Tanggal 26 September 2024. Siang’ hari’.
Sebagai fasilitator bagi peserta didik, Pengajar atau Guru memberikan dukungan penuh kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi yang dimiliki. Pemanfaatan alam sekitar sebagai sumber belajar dapat memberikan pengalaman yang bermakna dan menyenangkan bagi peserta didik.
Peserta didik dapat mengembangkan koneksi yang lebih kuat dengan lingkungan mereka dan memperdalam pemahaman mereka tentang berbagai konsep ilmiah dan sosial,” jelasnya.
Menurut Guru MI Al-Musri’ metode pembelajaran yang diterapkannya dapat membantu anak meningkatkan kesadaran lingkungan. Kemudian, para peserta didik juga dapat mengapresiasi keanekaragaman alam.
Cara mengajar salah satu Guru MI Al-Musri’ mendapat apresiasi langsung dari orang tua Murid, warga masyarakat lingkungan sekitar objek wisata (Ow) Bendungan Matras Ciputrapinggan, Pengunjung yang kebetulan sedang menikmati alam sekitar Tempat wisata, “Yang dibangun pada waktu masih zaman penjajahan, sekitar tahun 1980- kata Sarotun (sebagai pengunjung). Hal itu sampaikan dalam Kegiatan Siswa-siswi MI Al-Musri’ Babakan Pangandaran’ di Kecamatan Pangandaran’ Belajar Sambil bermai di Alam Terbuka, di Bendungan Matras Ciputrapinggan, Jalan Raya Sukahurip, Desa’ Sukahurip, Kecamatan Pangandaran’, Kabupaten Pangandaran’ Regency, West Java 46396. Hutan nan lebat jadi latar belakang, Pada hari’ Kamis kemarin tanggal (26/09/2024).
“Saya senang dan bangga mendengar cerita tentang Guru Sebagai fasilitator bagi peserta didik, dari Hulu Sungai Ciputrapinggan yang menjadikan alam dan hutan sebagai ruang kelas,” kata warga masyarakat sekitar.
Warga masyarakat sekitar menilai ini adalah bukti nyata dari kepemilikan bersama gerakan Merdeka Belajar. Gerakan untuk mengakselerasi kualitas pendidikan Indonesia yang sudah sepatutnya terus kita lanjutkan.
“Saya yakin masih banyak lagi praktik baik yang dilakukan guru-guru hebat di seluruh Indonesia,” ujarnya.
Sebagai warga juga memberikan apresiasi kepada pemerintah daerah yang menaungi Guru/pengajar, yakni Pemerintah Kabupaten Pangandaran’, dengan Pelestarian bangunan bersejarah merupakan upaya untuk mempertahankan bentuk, material, dan kondisi fisik bangunan bersejarah agar tetap bisa dinikmati oleh generasi mendatang.
“Gerakan Merdeka Belajar yang sudah kita jalankan, dan sekarang adalah milik Ibu-Bapak semua, kepala sekolah, guru, serta orang tua dan anak-anak Indonesia,” ungkap warga lingkungan yang berbeda di Bendungan Matras.
Sementara itu, Orang tua murid Ibu Ai Arisah Hayati mengucapkan terima kasih atas sederet anugerah yang diberikan kepada pemerintahannya. Dia mengatakan bahwa penghargaan yang didapatkan merupakan hasil kolaborasi pemerintah daerah, pihak sekolah, guru, murid, orang tua, dan pihak terkait lainnya.
Menurut Arisah, transformasi lewat gerakan pengenalan Belajar di alam terbuka mulai terlihat hasilnya. Ia mencatat tingkat literasi dan numerasi terus meningkat.
“Kami anggap Kurikulum di MI Al-Musri’ sangat sesuai dengan tujuan kami, yaitu bagaimana memanusiakan manusia, bagaimana mengajar anak-anak supaya belajar itu menyenangkan,” kata Arisah.
Meski begitu, gerakan Merdeka Belajar di MI Al-Musri’ menghadapi sejumlah tantangan. Pertama, anggaran. Tetapi meskipun anggaran bidang pendidikan kecil,
Dia menegaskan tantangan tersebut dihadapi oleh MI Al-Musri’ dengan cara mendorong kolaborasi ekosistem pendidikan serta memberikan penyadaran terhadap ekosistem pendidikan bahwa pendidikan butuh kolaborasi dan gotong royong bersama. Selain itu menurutnya ekosistem pendidikan harus berfokus pada peningkatan kompetensi dan karakter peserta didik.
“Hal ini selaras dengan semangat gerakan Merdeka Belajar yang selama ini dijalankan oleh MI Al-Musri’ untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan. Ke depannya, ekosistem pendidikan perlu bergotong royong untuk merawat dan melanjutkan berbagai upaya ini secara berkelanjutan,” tutup Arisah. (Rano-Mj).












