Patroli Indonesia, Medan – Untuk menjamin terselenggaranya pengelolaan air baku untuk kebutuhan domestik dan air minum untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat, BPSDM Kementerian PUPR bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air melalui Balai Pengembangan Kompetensi Wilayah I Medan PUPR telah menyelesaikan Pelatihan Perencanaan Teknis Air Baku demi terbentuknya insan PUPR yang kompeten dan mampu dalam pengelolaan air baku.
Dalam penutupan pelatihan Kamis (24/02), Kepala Pusat Pengembangan Kompetensi Sumber Daya Air dan Permukiman diwakili Kepala Bidang Manajemen Sistem dan Pelaksanaan Pengembangan Kompetensi Fitri Riandini dalam sambutannya mengatakan bahwa tugas dari BPSDM adalah untuk mencetak ASN yang Kompeten di bidangnya melalui pelatihan.
Fitri menyampaikan data bahwa seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk, kebutuhan akan air pun semakin meningkat. Untuk wilayah perkotaan, kebutuhan akan air bersih untuk domestik akan melonjak tinggi, sedangkan perluasan daerah pertanian untuk pemenuhan kebutuhan pangan juga membutuhkan air yang lebih banyak. Jika tidak dikelola dengan baik, sumber air yang ada tidak akan mencukupi untuk pemenuhan kehidupan penduduk saat ini, dan diantara pulaupulau di Indonesia, yang paling tinggi kebutuhan akan air baku adalah wilayah Pulau Jawa yang penduduk nya sangat padat.
Dalam pengelolaan air baku untuk kebutuhan domestik dan air minum, yang harus selalu kita perhatikan adalah aspek kualitas. Air yang akan kita kelola harus memenuhi baku mutu yang telah ditetapkan. Selain itu juga perlu diperhatikan aspek kontinuitasnya, dimana air yang kita salurkan harus selalu mengalir selama 24 jam sehari untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat. Begitu juga dengan air baku untuk air irigasi juga harus memenuhi baku mutu sesuai dengan Peraturan Pemerintah 3 No. 82 tahun 2001 sehingga kualitas air irigasi layak untuk dijadikan penyiraman pada tanaman.
Fitri Riandini juga mengatakan,“Perencanaan teknis air baku dilakukan untuk merencanakan pengambilan air pada sumber air sesuai dengan kebutuhan. Perlu kita cermati bersama bahwa perlunya konservasi pada sumber air yang kita ambil. Jumlah air yang tersedia saat ini mungkin akan berubah pada beberapa tahun mendatang. Oleh karena itu dalam merencanakannya perlu perhitungan dan pertimbangan teknis yang sesuai agar kelestarian sumber air dapat terjaga,” ujarnya.
Untuk diketahui, Pelatihan Perencanaan Teknis Air Baku yang telah berlangsung sejak tanggal 14 Februari dan berakhir hari ini (24/02), telah berhasil meluluskan seluruh peserta pelatihan yang berjumlah 40 peserta. Peserta dengan Predikat Memuaskan diraih oleh James Zulfan, S.T., M.Sc. dari Balai Hidrolika dan Geoteknik Keairan pada peringkat pertama, Samuel Seprian Pakpahan, S.T. dari BWS Sumatera IV Batam pada peringkat ke dua, Susi Hidayah S.T., M.T. dari Direktorat Bina Teknik SDA pada peringkat ke 3, Konrardus Onek, S.T. dari BWS Nusa Tenggara II Kupang pada peringkat ke empat dan Brigitta Mutiara Adhyaksa, S.T. dari Direktorat Kepatuhan Intern di peringkat ke lima. (*)












