Dinkes Malang Telusuri Dugaan Keracunan Massal Program MBG, Sampel Makanan dan Dapur SPPG Diperiksa

MPI, Kepanjen, Kabupaten Malang – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang bergerak cepat menanggapi dugaan kasus keracunan makanan yang menimpa 18 anak ,terdiri dari 16 siswa dan 2 guru—MTs Al-Khalifah di Desa Cepokomulyo, Kecamatan Kepanjen.

Insiden ini terjadi usai para korban mengonsumsi hidangan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dipasok oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mangunrejo.

​Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, dr. Wiyanto Wijoyo, pada Kamis (23/10/2025), mengonfirmasi bahwa tim investigasi telah diterjunkan langsung ke lapangan untuk mencari sumber kontaminasi.

Tim telah mengambil sampel sisa makanan yang dikonsumsi para korban untuk diuji di laboratorium.

Dalam pemeriksaan Higienitas fasilitas peralatan makan dan dapur di SPPG Mangunrejo juga diperiksa secara menyeluruh untuk memastikan tidak ada kontaminasi silang atau praktik yang tidak higienis.

​”Tim kami langsung turun ke lapangan. Sampel sisa makan sedang dilakukan pengecekan. Peralatan dapurnya juga diperiksa. Semuanya diperiksa,” tegas dr. Wiyanto.
​Hasil Laboratorium Ditunggu, Janji Transparansi
​Proses untuk memastikan penyebab pasti keracunan ini masih berlangsung.
dr. Wiyanto memperkirakan bahwa uji laboratorium memerlukan waktu beberapa hari sebelum hasilnya dapat diumumkan secara resmi.

​Dinkes Kabupaten Malang berkomitmen penuh untuk menjaga akuntabilitas dan transparansi. “Pasti hasilnya nanti akan disampaikan kepada publik. Tentu secara jelas setelah proses uji selesai,” pungkasnya. Hasil uji lab ini akan menjadi kunci untuk menentukan apakah kontaminasi berasal dari bahan baku, proses pengolahan, atau distribusi makanan MBG tersebut.
​Kondisi Korban Stabil dan Sudah Dipulangkan.

​Meskipun investigasi berlanjut, kabar baik datang dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kanjuruhan. Seluruh siswa dan guru yang sempat dilarikan ke rumah sakit karena gejala mual dan muntah kini telah membaik.

​Humas RSUD Kanjuruhan, Lukito Condro, menjelaskan bahwa para pasien menjalani observasi intensif selama tiga hingga enam jam untuk memastikan kondisi tubuh mereka sudah stabil sepenuhnya.
“Seluruh pasien kini dalam keadaan baik. Tapi ya tetap untuk memastikan penyebab dan tidak ada gejala lanjutan perlu observasi mendalam,” ujarnya.

​Semua pasien telah diperbolehkan pulang, namun observasi medis mendalam telah dilakukan untuk menjamin tidak ada gejala lanjutan yang muncul.
Dugaan keracunan massal ini kini menjadi sorotan tajam tentang kualitas dan pengawasan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis di Kabupaten Malang.

Pos terkait