FAB UIN Raden Mas Said Gelar Opening Ceremony ICCL ke-3, Mantapkan Kiprah Akademik Internasional

Surakarta, Patroli Indonesia – Apakah mungkin sebuah kampus lokal mampu berbicara di panggung global tanpa kehilangan jati dirinya? Pertanyaan inilah yang coba dijawab Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta melalui The 3rd International Conference on Culture and Language (ICCL). Diselenggarakan bertepatan dengan Dies Natalis ke-33, Fakultas Adab dan Bahasa menghadirkan forum ilmiah internasional di Hotel Syariah Surakarta. Dengan mengusung tema “Innovating Knowledge through Language and Culture: Interdisciplinary Pathways for Global Understanding.

Menariknya, sekitar 150 peserta dari berbagai kalangan akademisi hadir meramaikan konferensi ini. Jumlah itu bukan sekadar angka, melainkan bukti nyata bahwa ajang internasional ini benar-benar diminati. ICCL tak hanya jadi forum ilmiah biasa, tetapi juga ruang kolaborasi global tempat ide-ide segar dan inovasi lahir. Melalui bahasa dan budaya, para peserta dipertemukan untuk saling bertukar gagasan, membuka jaringan baru, sekaligus mencari jawaban atas tantangan zaman.

Konferensi yang berlangsung pada Rabu–Kamis (3–4/9/2025) ini dibuka dengan sambutan hangat dari Dr. Aly Mashar, S.Pd.I., M.Hum., Wakil Dekan Bidang III Fakultas Adab dan Bahasa dan juga sebagai ketua panitia. Dalam pengantarnya, ia menegaskan pentingnya menjaga sekaligus menginovasi pengetahuan di bidang budaya dan bahasa. Dari 98 makalah yang masuk, 60 karya terpilih dipresentasikan secara langsung di forum. Aly Mashar pun menyampaikan apresiasi kepada Rektor, Dekan, serta seluruh panitia yang telah mendukung terselenggaranya agenda akademik bergengsi ini.

Giliran Dekan Fakultas Adab dan Bahasa, Prof. Dr. Imam Makruf, M.Pd., melanjutkan sambutan dengan menegaskan bahwa konferensi internasional ini bukan sekadar tradisi akademik, melainkan ruang strategis bagi UIN Raden Mas Said untuk memperluas jejaring. “Bahasa dan budaya adalah satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cermin identitas dan nilai komunitas,” tegasnya.

Konsep glokalisasi menjadi kunci untuk menghadapi derasnya arus globalisasi. Dengan glokalisasi, sebuah institusi atau komunitas tidak hanya mengikuti tren global, tetapi juga tetap menjaga dan melestarikan nilai-nilai lokal yang menjadi identitas dan kekayaan budaya. Pendekatan ini, ujarnya, memungkinkan peserta konferensi untuk berkiprah di dunia internasional tanpa kehilangan akar budaya bangsa.

Tak berhenti di situ, Dr. Zainul Abbas, M.Ag., Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan, menguatkan arah visi kampus sebagai “kampus glokal”. Menurutnya, UIN Raden Mas Said Surakarta memiliki tanggung jawab untuk menumbuhkan pemahaman global, namun tetap berpijak pada kearifan lokal. “Bahasa adalah penentu apakah suatu bangsa dapat dikategorikan civilized atau tidak. Ia bisa menjadi pemicu lahirnya pergerakan besar,” ujarnya. Lebih jauh, ia menegaskan bahwa budaya bukan sekadar warisan tradisi, tetapi juga menjadi fondasi moral dan prinsip yang membentuk karakter bangsa. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya berperan sebagai panduan dalam bertindak, mengambil keputusan, dan menjaga identitas suatu masyarakat di tengah dinamika global.

Tak hanya mengirim akademisi ke luar negeri, UIN Raden Mas Said juga aktif menerima mahasiswa asing dari berbagai negara. Konferensi ini menjadi ruang pertukaran budaya sekaligus diplomasi akademik yang bernilai strategis. “Meski digelar oleh fakultas yang sederhana, acara ini punya makna luas bagi internasionalisasi kampus. Harapannya, ICCL menjadi panggung publikasi gagasan dosen, mahasiswa, hingga masyarakat untuk menjangkau dunia,” tutup Dr. Zainul Abbas.

Kehadiran para narasumber internasional, mulai dari Prof. Minako Sakai dari UNSW Sydney, KH. Muhammad Jadul Maula dari LESBUMI PBNU, hingga jajaran profesor dari Universiti Tun Hussein Onn Malaysia, menegaskan bahwa ICCL 2025 bukan sekadar ajang formalitas akademik. Forum ini menjadi bukti nyata bahwa UIN Raden Mas Said Surakarta serius memperluas jejaring global sekaligus menempatkan bahasa dan budaya sebagai fondasi pembangunan peradaban.

Dengan pendekatan yang menggabungkan pemahaman global dan pelestarian nilai lokal, ICCL 2025 membuka ruang strategis bagi dosen, mahasiswa, dan masyarakat untuk berkontribusi secara nyata. Lebih dari sekadar konferensi, ajang ini menjadi pijakan konkret bagi kampus dalam mencetak gagasan dan inovasi yang relevan bagi tantangan dunia modern, sekaligus menjaga identitas dan karakter bangsa.

Penulis: Sukamdi, Patroli Indonesia I Biro Sragen

Pos terkait