Sragen, MPI – Pondok Pesantren Al Madina Sragen menggelar kegiatan istimewa dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional 2025 dengan mengusung tema “Santri Hebat, Indonesia Kuat.” Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkokoh peran strategis santri sebagai penjaga nilai keagamaan, kebangsaan, dan keutuhan NKRI. Acara penyambutan ini berlangsung meriah dengan kehadiran para santri, mahasiswa santri, pengasuh, serta pengelola pondok yang menunjukkan antusiasme luar biasa.
Menyambut Hari Santri yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober, kegiatan ini juga menindaklanjuti surat edaran resmi dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sragen Nomor: 321/Kk.11.14/5/PP.00.7/10/2025 tertanggal 15 Oktober 2025. Surat tersebut berisi imbauan kepada seluruh pondok pesantren di Kabupaten Sragen untuk melaksanakan kegiatan Ro’an Santri pada Jumat, 17 Oktober 2025 mulai pukul 07.00 WIB sampai selesai di lingkungan pesantren masing-masing. Selain itu, setiap pesantren juga diminta mengunggah dokumentasi kegiatan sebagai bentuk partisipasi aktif dalam menyambut Hari Santri Nasional 2025.
Momen penyambutan Hari Santri ini tidak sekadar seremonial, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi para santri dan masyarakat pesantren untuk menegaskan kembali kontribusi historis santri dalam perjuangan bangsa Indonesia. Sejak masa pergerakan nasional, santri dikenal bukan hanya sebagai penuntut ilmu agama, melainkan juga pejuang, pemimpin, dan penggerak masyarakat. Semangat itu tampak hidup dalam rangkaian acara yang digelar di lingkungan pondok.
Pengasuh Ponpes Al Madina Sragen dalam sambutannya menegaskan bahwa santri harus terus menjadi garda terdepan dalam menjaga nilai-nilai luhur bangsa. “Santri harus cerdas, berakhlak, dan berdaya juang tinggi. Ilmu yang diperoleh di pesantren menjadi bekal penting untuk membangun bangsa yang bermartabat,” ujarnya. Sambutan tersebut disambut tepuk tangan meriah para peserta.
Acara penyambutan Hari Santri ini juga menghadirkan penceramah utama, Dr. Dwiyono, M.Pd., dosen STIT Madina Sragen. Dalam tausiyahnya, beliau menyampaikan bahwa santri masa kini harus menjadi agen perubahan yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. “Ilmu agama harus bersanding dengan wawasan kebangsaan dan kecakapan hidup. Santri harus siap tampil menjadi solusi bagi bangsa,” tegasnya dengan penuh semangat.
Beragam penampilan santri ikut menyemarakkan suasana, mulai dari pembacaan ayat suci Al-Qur’an, orasi kebangsaan, hingga pementasan drama perjuangan para kiai. Sorak semangat semakin menggelora ketika para santri dan mahasiswa santri mengibarkan bendera merah putih sambil menyanyikan lagu perjuangan. Momen ini menjadi simbol kesetiaan dan cinta santri terhadap Tanah Air.
Antusiasme para mahasiswa santri menjadi pemandangan yang membanggakan. Mereka menunjukkan semangat, keceriaan, dan kebanggaan sebagai bagian dari sejarah perjuangan bangsa. Banyak di antara mereka yang bertekad untuk terus berperan aktif dalam pembangunan masyarakat melalui dakwah, pendidikan, dan pengabdian sosial. Santri masa kini bukan sekadar pewaris tradisi, tetapi juga penggerak perubahan.
Acara penyambutan Hari Santri di Ponpes Al Madina Sragen ditutup dengan doa bersama untuk kemajuan dan keselamatan bangsa Indonesia. Pengelola pondok menyampaikan harapan besar agar semangat Hari Santri 22 Oktober terus menyala dalam tindakan nyata. Ketika santri kuat, maka Indonesia akan semakin kokoh dan bermartabat di masa depan.
Penulis: Sukamdi, Media Patroli Indonesia I Biro Sragen













