Nenek 72 Tahun Hidup Sendiri di Gubuk Pengap

Patroli-Indonesia.com, Ciamis – Sungguh malang nasib yang menimpa Oyoh (72) warga Dusun Nanggela Kidul RT 13 RW 06 Desa Sumberjaya Kecamatan Cihaurbeuti Kabupaten Ciamis, selama ini hidup sendirian dan tinggal di gubuk pengap beratap tikar, karung dan kain-kain bekas.

Nenek Oyoh begitulah orang memanggilnya, tinggal seorang diri di gubuk hasil yang dibangun dari hasil jerih payahnya sendiri. Untuk bertahan hidup dia sehari-harinya memungut barang bekas untuk dikumpulkan dan dijual.

Ketika ditemui tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) Kabupaten Ciamis yang akan memberikan bantuan, Kamis (19/05/2022) lalu, terlihat nek Oyoh sedang membereskan barang bekas hasil dari memungutnya dijalanan dan tempat sampah dari kampung ke kampung.

Program Developpement ACT Ciamis, Andra Rian Mulyana saat memantau langsung ke gubuk nek Oyoh mengatakan sungguh memprihatinkan melihat kondisi gubuknya yang hanya memakai karung, kain dan kardus bekas.

“Saya merasa prihatin melihat keadaan nenek, dan lebih memprihatinkan lagi tidak ada penerangan sama sekali. Saya khawatir kalau malam ada binatang buas,” ucapnya.

Menurut Andra, untuk makan sehari-harinya nenek mengandalkan hasil dari mengumpulkan barang bekas yang penghasilnya semiggu Rp.70 ribu. 

“Dengan uang itu nenek bisa membeli untuk kebutuhan sehari-hari, itu juga kadang kalau tidak bisa membeli beras nenek makan ubi. Saya pernah melihat saat nenek Oyoh mengkomsumsi ubi yang kurang layak karena berlendir namun tetap ia memakanya,” jelasnya.

Andra juga mengungkapkan bahwa nenek Oyoh merupakan salah satu dari banyak lansia yang kurang beruntung di negeri ini. Pihaknya berharap akan ada banyak orang baik, para agnia, dermawan yang mau menyisihkan sedikit rezekinya untuk membantu nenek Oyoh. Apabila ingin membantu nenek pihaknya siap untuk menampung dan menyalurkannya. Untuk penggalangan donasi bisa disalurkan melalui: rekening BSI # 7164158653
Muamalat # 1520007615  atas nama Aksi Cepat Tanggap.

“Agar kami bisa membangunkan rumah nenek Oyoh supaya bisa istirahat dan tidur dengan nyaman di umurnya yang sudah senja ini. Semoga Allah membalas kebaikan kita, aamiin,” ungkap Andra..

Nek Oyoh ketika ditemui tim ACT Ciamis, Kamis (19/05/2022)

Sementara itu nenek Oyoh yang ditemui tim ACT Ciamis mengungkapkan bahwa dulu dirinya pernah memiliki rumah sepeninggalan dari suaminya namun 2,5 tahun yang lalu rumahnya roboh akibat angin kencang ditambah kondisi sebelumnya sudah lapuk dimakan usia.

“Saya ingin memperbaiki rumah namun karena tidak ada biaya ahirnya dibiarkan dan saya memilih bikin gubuk saja dengan barang bekas yang penting bisa untuk berteduh,” ucapnya..

Untuk mencari dan mengumpulkan barang bekas, nek Oyoh harus berjuang keras berjalan dari kampung ke kampung ditengah teriknya matahari dan memaksa tubuh rentanya menyusuri jalanan juga tempat-tempat pembuangan sampah demi mengambil barang bekas yang bisa dijualnya.

Menurutnya tidak jarang dari pagi hingga petang dirinya tidak mendapatkan apapun selain rasa capek dan rasa sakit pada bagian pergelangan kaki akibat jatuh beberapa tahun yang lalu.

“Kalau saya mendapat barang bekas sesampainya digubuk harus memilahnya, sebelum akhirnya dijual ke pengepul,” ujar nek Oyoh..

Nek Oyoh mengaku bahwa tinggal sendirian jauh dari anak-anak yang berada diluar daerah. Agar tidak membebani anak-anaknya makanya untuk makan sehari-hari dirinya hanya bisa mengumpulkan barang bekas dan menjual barang tersebut. Penghasilan dari menjual barang tersebut bisa mencapai Rp.70 ribu kadang juga kurang.

“Saya cukup-cukupkan uang segitu, terkadang saya nahan lapar bila tidak bisa membeli beras atau mencari ketela pohon ke hutan bila tidak ada nasi, kadang juga ada yang ngasih dari pa lurah maupun tetangga,” pungkasnya. (Nank Irawan)

Pos terkait