Sragen, MPI – Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Madina Sragen kembali menggelar kegiatan akademik bertajuk Stadium General yang diikuti oleh mahasiswa dari tiga program studi: S1 Manajemen Pendidikan Islam (MPI), S1 Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), dan S1 Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD). Kegiatan ini dilaksanakan di Aula Kampus STIT Madina Sragen pada Jumat (26/9/2025), dengan mengusung tema “Penguatan Karakter Mahasiswa Islam di Era Digital: Peluang dan Tantangan.”
Acara dibuka resmi oleh Ketua STIT Madina Sragen, Dr. Latifah Permatasari Fajrin, S.Pd.I., M.Pd.I., yang dalam sambutannya menekankan pentingnya karakter sebagai fondasi utama menghadapi derasnya arus digitalisasi. “Teknologi adalah alat, bukan tujuan. Mahasiswa Islam harus mampu menjadikan karakter sebagai kompas dalam bersikap dan bertindak di dunia digital,” tegasnya.
Stadium General kali ini menghadirkan narasumber dari kalangan dosen STIT Madina Sragen, yakni: Burhan Ibnu Hazin, S.Th.I., M.Pd., Moh. Sholihul Amri, M.Pd.I., dan Siti Rochmatun, S.Pd., M.Pd., Ketiganya menyampaikan materi yang berbeda namun saling melengkapi, mulai dari urgensi pembentukan karakter, strategi dakwah digital, hingga pelestarian nilai-nilai lokal dalam era global.
Pemaparannya, Burhan Ibnu Hazin, S.Th.I., M.Pd., menekankan bahwa: “Pemuda adalah kekuatan dengan energi, idealisme, dan kreativitas yang mampu menjadi penggerak perubahan di berbagai bidang. Sejarah telah membuktikan, mulai dari peran para sahabat muda di masa awal Islam, lahirnya Sumpah Pemuda 1928, hingga gerakan demokrasi di Nepal, bahwa pemuda selalu tampil sebagai aktor penting dalam setiap transformasi besar. Oleh karena itu, mahasiswa STIT Madina Sragen dituntut untuk meneladani semangat persatuan, keberanian, dan visi besar tersebut, sehingga tidak hanya menyiapkan diri untuk masa depan, tetapi juga hadir sebagai agen perubahan nyata pada masa kini demi terwujudnya pendidikan dan peradaban yang bermartabat.,” ujarnya.
Sementara itu, Moh. Sholihul Amri, M.Pd.I, mengajak mahasiswa bahwa : “Kemampuan dapat terus diasah dan ditingkatkan melalui usaha, pengalaman, dan proses belajar. Mahasiswa dengan pola pikir ini akan memandang tantangan sebagai kesempatan belajar, menjadikan kesalahan sebagai pelajaran berharga, berkomitmen berusaha keras mencapai tujuan, serta lebih mudah beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Dengan growth mindset, mahasiswa tidak hanya mampu menguasai keterampilan digital dan menyikapi perubahan teknologi yang cepat, tetapi juga lebih terbuka dalam berkolaborasi di lingkungan digital. Hal ini menjadikan mereka pembelajar sepanjang hayat yang adaptif, tangguh, dan siap menghadapi dinamika dunia digital, sehingga menunjang keberhasilan akademik sekaligus profesional di masa depan,” katanya.
Di sisi lain, Siti Rochmahtun, S.Pd., M.Pd., menutup sesi dengan refleksi tentang pentingnya menjaga kearifan lokal di tengah arus globalisasi digital. “Digitalisasi jangan sampai menghapus jati diri. Justru kita harus tampil dengan ciri khas lokal yang kuat, seperti filosofi Jawa: Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana,” tuturnya.
Kegiatan ini semakin hidup dengan sesi diskusi interaktif yang melibatkan mahasiswa dari ketiga prodi. Berbagai pertanyaan kritis muncul, mulai dari strategi pendidikan karakter anak usia dini, manajemen pendidikan berbasis digital, hingga etika bermedia sosial. Sebagai penutup, mahasiswa STIT Madina Sragen menyusun dan membacakan resolusi bersama yang berisi komitmen untuk: Menjaga akhlak dan etika dalam dunia digital, Mengembangkan konten edukatif berbasis nilai Islam, Menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing.
Dengan semangat kebersamaan dan tekad yang kuat, kegiatan Stadium General ini menjadi momentum penting dalam memperkuat karakter mahasiswa Islam. Kehadiran para narasumber serta partisipasi aktif mahasiswa menunjukkan bahwa isu karakter di era digital tidak hanya penting, tetapi juga mendesak untuk terus digarap secara serius di lingkungan akademik.
Momentum ini juga memperlihatkan kesiapan STIT Madina Sragen dalam merespons tantangan global melalui penguatan nilai-nilai Islam, pemanfaatan media digital secara positif, serta pelestarian kearifan lokal. Mahasiswa didorong untuk menjadi pribadi yang tangguh, adaptif, dan kritis, namun tetap berakar pada moralitas dan etika Islami.
STIT Madina Sragen menegaskan komitmennya untuk terus mencetak generasi penerus bangsa yang tidak hanya berilmu, tetapi juga berakhlak mulia dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Dengan demikian, penguatan karakter di era digital bukan sekadar wacana, melainkan langkah strategis menuju terciptanya peradaban yang bermartabat.
Penulis: Sukamdi, Patroli Indonesia I Biro Sragen















