Patroli Indonesia | IPTEK – Energi nuklir adalah sebuah pilihan yang tidak bisa dihindari dan bukan energi alternatif serta solusi energi masa depan.
Nuklir adalah energi, nuklir adalah anugrah dari Tuhan, tinggal kita mau memanfaatkan apa tidak, kalau mau dimanfaatkan untuk kebutuhan Indonesia sendiri lebih baik. Sesuai dengan Perpres No. 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN) sebelum diubah dengan Perpres No. 79 Tahun 2014, nuklir masih dimasukkan ke dalam kelompok energi baru dan terbarukan (EBT) yang akan digunakan sebagai pembangkit listrik.
Jumlah kontribusi listrik dari tenaga nuklir diharapkan mencapai 5% dari 100.000 MWe yang diproyeksikan untuk disediakan hingga tahun 2025. Dengan Perpres tersebut secara keseluruhan jumlah kontribusi dari EBT adalah sekitar 17% yang meliputi energi matahari, air, angin, panas bumi, biodiesel dan nuklir.
Namun pada Perpres No. 79 Tahun 2014 dinyatakan bahwa tenaga nuklir dimasukkan sebagai energi alternatif dari sumber energi lainnya. Ini bisa dimaknai bahwa tenaga nuklir belum masuk dalam skala prioritas pembangunan pembangkit listrik hingga tahun 2020. Hal tersebut bisa dipahami mengingat persiapan untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) memerlukan waktu yang cukup lama.
Saat ini BATAN masih terus memperdalam hubungan dengan pihak-pihak lain untuk pengembangan teknologi nuklir di bidang energi, khususnya nuklir yang ramah lingkungan di Indonesia. Salah satu pengembangan teknologi nuklir yang telah BATAN rencanakan adalah tapak-tapak untuk calon Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang tersebar di sejumlah daerah, seperti di Semenanjung Muria, Bangka Belitung, Batam, Banten, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur.
Sedangkan untuk pembangunan PLTN, masih tergantung pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Selain itu BATAN tengah merencanakan pembangunan reaktor daya non komersial (RDNK) untuk kepentingan riset bernama proyek Reaktor Daya Eksperimental (RDE).
RDE merupakan suatu strategi pemerintah untuk mengenalkan reaktor nuklir yang menghasilkan listrik dan sekaligus dapat digunakan untuk eksperimen/riset. RDE merupakan PLTN mini yang dimasa depan dapat diaplikasikan di daerah yang tidak membutuhkan daya besar, terutama di wilayah Indonesia Bagian Tengah dan Timur.
Disamping itu, untuk menghasilkan listrik kelak tipe reaktor ini dapat dimanfaatkan untuk proses desalinasi (mengubah air laut menjadi air tawar), produksi hidrogen dan proses pencairan batubara.
Tujuan pembangunan RDE ini adalah membangun reaktor nuklir dengan ukuran kecil yang dapat digunakan sebagai sarana penguasaan teknologi bagi putra-putri Indonesia dalam manajemen pembangunan, pengoperasian dan perawatan reaktor nuklir untuk pembangkit listrik.
Selain itu, RDE juga akan digunakan sebagai sarana demonstrasi teknologi dan edukasi kepada seluruh stakeholders bahwa PLTN aman, ramah lingkungan dan ekonomis sebagai pembangkit listrik.
Lokasi RDE ada di Kawasan Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan, berdekatan dengan Reaktor Serba Guna GA Siwabessy yang sudah 28 tahun dioperasikan oleh BATAN dengan daya 30 MW.
Meningkatnya pertumbuhan ekonomi di suatu negara, selain membawa dampak positif juga menimbulkan permasalahan, khususnya di bidang lingkungan, yakni pencemaran udara akibat berbagai kegiatan di berbagai sektor baik industri maupun transportasi.
Teknologi nuklir menjadi salah satu bagian dalam pengentasan pemasalahan polusi udara dalam rangka meningkatkan kualitas udara di Indonesia. Energi bersih atau yang tidak mengeluarkan emisi CO2 ya kalau tidak energi terbarukan ya energi nuklir.
Energi nuklir jika dibandingkan energi terbarukan lainnya mempunyai beberapa keuntungan jika dibandingkan energi surya yang mempunyai panel dan baterai yang harus dipelihara dan ada jangka waktunya, serta limbahnya berbahaya dan merupakan limbah B3, maka energi nuklir tidak.
Energi angin/bayu, mempunyai permasalahan dengan kebutuhan lahan yang luas, arah angin dan kecepatan angin serta kincirnya yang terbuat dari bahan komposit dan bahan berbahaya serta berbiaya mahal dalam pemeliharaan maka energi nuklir tidak. Pada energi air, debit air yang naik turun dan berkurang debit air dimasa yang akan dating menjadi permasalahan tersendiri di kemudian hari disamping perawatan peralatan energi air.
Sebagai contoh beberapa permasalahan maupun kerusakan panel surya yang paling umum terjadi pada energi surya seperti : Titik panas mempercepat kerusakan panel surya, ; Keretakan pada panel surya mengurangi pembangkitan energi. Ketika retakan terbentuk di panel surya, sel surya yang terkena akan mengalami kesulitan mengalirkan arus listrik, yang menyebabkan produksi energi dan hot spot yang buruk. ; Kaca yang rusak bisa berdampak buruk hanya dari cuaca Kaca yang ideal harus cukup kuat untuk menahan tekanan yang wajar seperti hujan es dan bola sambil membiarkan sinar matahari diserap oleh sel surya. ;Debu dekat tepi panel dapat mengganggu. Residu debu tertinggal saat air menguap untuk menciptakan naungan yang tidak diinginkan dan mengurangi produksi energi dari sel surya. ;Koneksi panel surya yang cacat mengurangi produksi energi. Panel surya dengan interkoneksi yang disolder dengan buruk yang menyebabkan sepertiga sel surya menjadi sirkuit terbuka, sehingga mengurangi produksi energi panel sebesar sepertiga atau lebih.. ;Kotak junction yang cacat dapat meninggalkan panel surya dalam sirkuit terbuka. Jika air atau debu merembes ke dalam kotak persimpangan, enclotentu saja, dioda bypass di dalamnya dapat menjadi korsleting dan terbakar. ;Kerusakan akibat Potential Induced Degradation (PID). Panel surya biasanya dihubungkan dalam rangkaian panjang untuk menghasilkan tegangan sistem tinggi, kadang-kadang setinggi 1000 V, untuk menggerakkan inverter surya. Perbedaan tegangan tinggi antara rangka ground dan sel surya mungkin terlalu banyak untuk ditangani sel surya berkualitas buruk dan mungkin mulai memburuk. ;Lembar belakang retsk menyediakan isolasi air yang buruk Komponen panel surya terpapar radiasi UV yang intens dan variasi suhu setiap hari.
Lembaran belakang retak merupakan tanda pemilihan komponen yang buruk dan dapat menyebabkan uap air masuk ke laminasi modul sehingga merusak sel surya.
Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Tri Handoko menyampaikan pemerintah Indonesia tengah serius mewujudkan komitmen net zero emission (NZE) pada 2060 Hal ini dilakukan dengan atau lebih cepat dan mewacanakan pula pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertama yang diharapkan bisa dimulai dengan commercial operation date (COD) pada 2045.
Hal ini sesuai dengan skenario umum transisi energi di Indonesia, di mana saat ini sebesar 75 persen emisi yang dihasilkan berasal dari penggunaan energi fosil. Skenario transisi energi menuju NZE ke depan bertumpu pada pembangkitan listrik energi terbarukan yang akan membawa perubahan besar dalam ketenagalistrikan, dan listrik akan menjadi pusat transisi tersebut.
Komitmen NZE pada 2060 dapat tercapai melalui penggunaan energy nuklir. Sebelumnya, selama lebih dari dua dekade, topik energi nuklir tidak masuk dalam agenda konferensi perubahan iklim yang dikoordinasikan oleh PBB.
Namun, pada KTT COP26 yang berlangsung di Glasgow pada tahun 2021, energi nuklir mulai menjadi perhatian. Dengan karakteristik yang hampir bebas karbon, dan mampu menghasilkan daya besar terus menerus maka PLTN merupakan salah satu solusi mengatasi pemanasan global.
Memang bayangan bencana Chernobyl dan Fukushima masih ada. Namun, ketika krisis iklim makin dalam dan kebutuhan untuk beralih dari bahan bakar fosil menjadi mendesak, sikap banyak negara mulai berubahuntuk menuju NZE Indonesia 2060, Pemerintah Indonesia menyatakan bahwa disamping mentargetkan untuk secara bertahap menghentikan operasi pembangkit listrik yang sumber energinya dari batu bara, juga memaksimalkan pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT). Opsi 2045 Bahkan, Pemerintah Indonesia menyatakan bahwa opsi penggunaan nuklir direncanakan akan dimulai pada 2045 dengan kapasitas hingga mencapai 35 Giga Watt (GW) pada 2060.
Senada, energi nuklir mampu memenuhi kebutuhan energi secara masif dan sesuai untuk peningkatan kemampuan industrialisasi Indonesia pada masa depan. Dengan demikian, untuk memenuhi kebutuhan energi yang bersifat masif dan berkesinambungan, maka tidak ada pilihan lain untuk menggantikan peran penggunaan sumber daya energi konvensional kecuali penggunaan energi nuklir.
Pada saat ini teknologi reaktor nuklir telah mencapai pencapaian teknologi yang lebih unggul dibanding dengan teknologi pembangkit lainnya. terdapat sejumlah keunggulan teknologi energi nuklir, seperti misalnya tidak menghasilkan limbah yang dilepaskan ke lingkungan. Karena semua limbah terkait dengan pengunaan material nuklir dikelola dengan sistem pengelolaan limbah nuklir yang pada akhirnya disimpan, diimobilisasi dan dikungkung.
Kedua, keunggulan lainnya adalah mengaplikasikan sistem keselamatan komprehensif (defense in depth atau sistem pertahanan berlapis) yang terdiri dari keselamatan melekat (inherent safety), redundansi, interlock, reliability, hambatan ganda (multiple barrier), dan prosedur operasi terstandarisasi. (NN)













