MPI, GORONTALO UTARA – Perayaan Hari Ulang Tahun ke-19 Gorontalo Utara berlangsung meriah. Tarian kolosal, panggung megah, dan tepuk tangan menjadi wajah yang ditampilkan ke publik. Namun di saat yang sama, realitas lain justru berjalan diam-diam-tanpa sorotan.
Empat warga Padengo, Desa Buladu, Kecamatan Sumalata Timur, dipanggil untuk dimintai keterangan oleh Polda Gorontalo. Proses hukum berjalan, sementara kehidupan mereka tetap harus berlanjut di tengah ketidakpastian.
Informasi yang beredar menyebutkan bahwa pemanggilan tersebut diduga berkaitan dengan laporan dari PT Makale Toraja Mining, yang oleh sejumlah sumber disebut sudah tidak lagi beroperasi sejak lama. Di titik ini, publik mulai bertanya: logika mana yang sedang dipakai?
Ketua DPC Gorontalo Utara, Iron Tangahu, melihat ada ketimpangan antara yang dirayakan dan yang dirasakan. Menurutnya, pemerintah terlalu cepat merayakan simbol, tapi lambat merespons realitas
.
“Kalau perayaan terus berlangsung, sementara rakyat berhadapan dengan tekanan, maka yang perlu dipertanyakan bukan acaranya, tapi kepekaannya,” ujar Iron Jumat 24 April 2026
Ia menilai, pemerintah seharusnya tidak hanya hadir dalam bentuk seremoni, tetapi juga dalam bentuk keberpihakan. Sebab rakyat tidak memilih pemimpin untuk merawat panggung, melainkan untuk menjaga rasa keadilan.
“Rakyat tidak butuh panggung. Rakyat butuh kehadiran. Dan kehadiran itu diuji saat rakyat menghadapi masalah, bukan saat musik dimainkan,” lanjutnya.
Iron juga menyinggung bahwa jika benar laporan berasal dari entitas yang sudah tidak beroperasi, maka persoalan ini bukan sekadar hukum, tapi soal rasionalitas kebijakan.
“Kalau yang tidak aktif masih bisa aktif menekan, berarti ada yang lebih aktif dari sekadar administrasi. Itu yang harus dijelaskan,” katanya.
Iron menegaskan bahwa momentum hari jadi daerah seharusnya menjadi ruang refleksi, bukan sekadar repetisi seremoni tahunan yang miskin evaluasi.
“Perayaan itu sah. Tapi kalau perayaan mengabaikan realitas, maka itu bukan kebanggaan – itu pengalihan,” tegasnya.
Situasi ini menjadi cermin bahwa pembangunan bukan hanya soal apa yang terlihat di panggung, tetapi juga tentang apa yang dirasakan di lapangan. Dan di antara keduanya, publik mulai melihat jarak yang semakin lebar. Red












