Penyuling Minyak “Kuasai” BBM di SPBU Bilah Hilir Labuhanbatu, Warga Mengeluh

MPI, Labuhanbatu – Keberadaan SPBU semestinya menjadi keuntungan warga dalam kemudahan memperoleh bahan bakar minyak, tetapi tidak demikian yang terjadi di SPBU Kelurahan Negeri Baru, Kecamatan Bilah Hilir, Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara.

Bahan bakar minyak subsidi seperti pertalite dan Bio Solar yang dipasok dari Pertamina Sumut ke SPBU dimaksud, 90 persen dinikmati oleh para penyuling minyak yang memiliki beberapa armada.

Puluhan “pemain” BBM subsidi di SPBU tersebut sudah berlangsung bertahun -tahun. Bahan bakar minyak seperti solar dan pertalite dijual oleh penyuling ke agen – agen pengecer untuk dibawa ke wilayah kecamatan lain hingga ke wilayah Panipahan – Propinsi Riau.

“Selain ke agen, para penyuling yang rumahnya di seputaran SPBU itu menjual eceran di kedai – kedai mereka dengan harga Rp 12 – 13 ribu per liter,”kata warga Negeri Lama mengaku bernama Romario Sihombing kepada awak media ini, Senin, (24/6/2025) di seputaran SPBU.

Romario Sihombing menyebut, warga setempat sangat sulit untuk bisa mendapat BBM subsidi dari SPBU milik anak mantan anggota DPRD Kabupaten Labuhanbatu dari partai PDI – Perjuangan.

Menjelang sore hingga malam hari, lanjutnya, puluhan armada darat seperti truck colt diesel, pick – up, hingga mobil pribadi tahun rendah milik para penyuling BBM subsidi sudah antri panjang di SPBU tersebut.

“Datang minyak dari Pertamina malam hari ke SPBU, pagi hari BBM subsidi seperti solar dan pertalite sudah habis. Hanya tinggal Pertamax yang ada, Warga setempat terpaksa beli di kedai atau warung eceran,”terang Romario Sihombing.

Di lokasi yang sama, menurut warga lainnya menyebut dirinya bermarga Sitepu, cepat habisnya BBM subsidi dari SPBU Negeri Baru Kecamatan Bilah Hilir itu disebabkan adanya kerjasama antara pihak SPBU dengan mafia minyak.

“Pukul 11.30 WIB malam lampu di SPBU itu padam, seolah SPBU itu sudah tutup. Tetapi, pengisian BBM subsidi ke armada para pemain BBM subsidi tetap berlanjut terus. Gimana gak habis, sampai mau subuh baru berhenti pengisian BBM ke para penyuling BBM subsidi,” ujar Sitepu.

Terpisah, keterangan sumber lainnya kepada awak media ini mengaku warga Negeri Lama bernama Samsul Ginting, banyak para penyuling BBM subsidi memiliki armada roda 6 dengan kondisi buruk sebanyak 3 -4 unit. Armada tersebut, katanya, hanya spesialis digunakan untuk menyuling minyak dari SPBU.

“Semua berjalan lancar dan aman karena disinyalir adanya bulanan atau setoran kepada Kapolsek Bilah Hilir juga ke Polres Labuhanbatu, makanya tak ada kendala bagi para mafia minyak BBM subsidi di daerah ini menjalankan bisnisnya,” ungkap Samsul Ginting

“Kami masyarakat kecil imbasnya, harus beli minyak subsidi di eceran terus ! Ada SPBU, tetapi habis terus digasak para penyuling !! Aparatur penegak hukumnya terkesan pura pura buta,pura pura pekak kupingnya!!,” timpal rekan samsul ginting kental dengan logat batak mengaku bermarga Togatorop.

Menindaklanjuti keterangan para sumber, mandor SPBU Bilah Hilir Robinson dikonfirmasi via telepon seluler, Rabu (25/6/2015) soal cepat habisnya BBM subsidi solar dan pertalite karena ada kerjasama “gelap” antara SPBU dan para “penyuling minyak”, meski sudah dipertanyakan Robin malah berkilah bertanya kembali, “penyulingan apa” dan tidak masuk saat dihubungi kembali.

Kapolsek Bilah Hilir, AKP Andita Sitepu SH, MH, dikonfirmasi via WhatsApp, apakah tidak mengetahui selama ini adanya penyuling BBM subsidi dari SPBU Bilah Hilir, atau pura pura tidak tahu, karena adanya dugaan menerima upeti bulanan dari para penyuling, Kapolsek Bilah Hilir Andita Sitepu belum berkenan memberikan tanggapan meski terlihat contreng dua. (*)

Pos terkait