Beraksi di Ibukota Jakarta, Ultimatum dari Aktivis Masyarakat BMR: Janji NKRI Diingkari

MPI, JAKARTA – Gelombang kekecewaan dari Bolaang Mongondow Raya (BMR) pecah di Jakarta. Dalam pernyataan sikap politik pada Rabu siang (27/4/2026), elemen masyarakat BMR menggugat habis komitmen kebangsaan Jakarta dan beraksi melempar ultimatum: hentikan menganaktirikan BMR, atau bersiap hadapi diskursus keluar dari NKRI.

Ingatkan Darah Kedaulatan yang Dilebur
Pernyataan itu membuka luka sejarah. BMR menegaskan diri bukan tanah kosong saat Republik diproklamasikan. “BMR adalah entitas politik berdaulat dalam bentuk kerajaan yang memiliki tatanan adat, hukum, dan wilayah yang jelas,” tegas seorang Aktivis yang berada di lokasi aksi demo.

Tanggal 1 Juli 1950 disebut sebagai hari ketika BMR “menanggalkan mahkota kedaulatannya” untuk melebur ke NKRI. “Ini bukan penaklukan. Ini kontrak sosial. Kami menukar kedaulatan dengan janji kesejahteraan bersama,” ungkapnya.

76 Tahun Jadi “Anak Tiri
Janji itu, menurut mereka, dikhianati. Setelah 76 tahun menyetor sumber daya alam, menjaga perbatasan utara Sulawesi, dan tetap loyal, BMR merasa dibuang.

“Aspirasi pemekaran yang objektif untuk mendekatkan layanan dibiarkan membusuk di meja birokrasi. Pembangunan dan perhatian politik dari pusat? Jauh panggang dari api dibanding apa yang kami beri untuk Republik,” kecam para aktivis dalam pernyataannya yang terlontar saat unjuk rasa di depan kantor Kementerian Dalam Negeri.

Ancamannya: Jangan Salahkan Rakyat Jika Retak
Aliansi masyarakat BMR menyebut kesabaran sudah di ujung tanduk. Mereka melayangkan dua peringatan keras:

1. “Jangan salahkan kami, jika suatu saat hubungan baik yang dibina sejak 1950 ini akan retak dan rusak.”
2. “Apabila BMR terus dianaktirikan dan dikhianati, maka jangan salahkan arus massa dan tuntutan rakyat jika opsi keluar dari NKRI menjadi diskursus yang tidak terelakkan.”

Pernyataan ditutup dengan penegasan bahwa BMR tidak minta istimewa. “Kesetiaan perlu timbal balik. Kami cuma nagih hak: keadilan dan janji kesejahteraan. Itu alasan leluhur kami memilih Republik ini 76 tahun lalu. Jika janji itu mati, untuk apa kontrak ini dipertahankan?” **

https://www.facebook.com/share/v/1BAhdRX22P/

Pos terkait