Patroli Indonesia | Kuburaya, Kalbar – Pemerintah lewat berbagai kementrian dan lembaga, seperti Kementrian Lingkungan dan Kehutanan (KLHK) serta Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), terus mempercepat rehabilitas mangrove mengingat perannya untuk kestabilan alam pesisir dan pengendalian perubahan iklim.
Seperti adanya bantuan dari KLHK ,untuk bibit hutan mangrove di beberapa daerah dari sekian propinsi salah satu nya kubu raya dan tepat nya di Desa Teluk Harapan
Menyusul Desa Tasik Malaya. Senin (1/11/2021).
Bantuan yang diberikan dari KLHK yang diberikan untuk masyarakat kembali kemasyarakat Guna memulihkan faktor ekonomi dan untuk kesejahteraan masyarakat itu sendiri dimasa pandemi covid-19.
Bibit bantuan yang diberikan di Desa Tasik Malaya pagu dana 650 juta, diberikan kepada kelompok “Lestari mangrove” yang berjumlah 50 orang dengan upah para pekerja 95 rb perhari
Diatas tanah seluas 45 hektar.
Akan tetapi, pengelolaan bibit hutan mangrove ini, simpang siur Pasalnya Bibit tersebut didapatkan membeli dari Ismail warga Tanjung harapan yang sebelumnya telah menerima bantuan bibit ditahun lalu berjumlah 41 rb batang dan dibeli juga dari staf desa bernama Maskur sebanyak 107 ribu batang Jumlah keseluruhan menjadi 148 rb batang.
Melanjuti permasalahan ini awak media menemui kepala desa Tasik Malaya Hendra, untuk mengkonfirmasi terkait simpang siurnya bantuan bibit mangrove ini.
“Kami secara pribadi sangat bersyukur dan berterima kasih kepada pihak KLHK yang sudah memberikan bantuan bibit kepada desa kami. Bantuan bibit yang diberikan di desa Tasik Malaya pagu dana 650 juta diberikan kepada kelompok LESTARI MANGROVE yang berjumlah 50 orang dengan upah para pekerja 95 rb perhari diatas tanah seluas 45 hektare,” ucap Hendra Kades Tasik Malaya.
Hendra menambahkan, pengelolaan bibit hutan mangrove ini menjadi pembicaraan yang kurang baik pasalnya bibit tersebut didapatkan membeli dari Ismail warga Tanjung harapan yang sebelumnya telah menerima bantuan bibit ditahun yang lalu. Dengan jumlah 41 ribu batang dan dibeli juga dari staf desa yang bernama Maskur sebanyak 107 ribu batang jumlah keseluruhan menjadi 148 ribu batang.
“Sangat di sayangkan kejadian terulang kembali, Ismail yang selalu ada dalam permasalahan terkait bantuan bibit mangrove,” jelasnya dengan nada kecewa.
“Dalam hal ini saya selaku kepala desa hanya membantu mengawasi terkait anggaran dan memang saya mengetahui nya. Akan tetapi anggaran tersebut, diberikan langsung ke rekening kelompok melalui tiga tahapan dan anggaran yang baru diterima 200 juta untuk tahap pertama
Selebih nya saya tidak mengetahui, ini akan terus saya awasi,” papar hendra.
Menurut pemberitaan yang ada disalah satu media beberapa waktu lalu, seolah olah menyudutkan dan terkesan sepihak tanpa konfirmasi kepihak terkait.
Terkait bantuan bibit bibit mangrove ini dianggap adanya dugaan indikasi korupsi yang mana adanya pemberitaan salah satu media. Dalam hal ini kami hanya bisa mengikuti prosedur yang ditentukan olah KLHK yang perpanjangan tangan oleh BPDASHL.
“Kami juga berharap masalah ini tidak berkepanjangan, sebab disini lah mata pencarian masyarakat kami yang saat ini boleh dikatakan susah. Kalau pun kedepannya memang dinilai adanya penyimpangan biar APH yangmenentukan dan hakim yang memutuskan. Dan kami juga memohon kepada KLHK dan BPDAS untuk tidak lepas dari pengawasan terkait bantuan-bantuan yang diberikan agar tidak ada permasalahan lagi kedepannya,” Pungkasnya.
(Yuli/Fredy)












