Simulasi Kebakaran JNE: Ujian Kesiapsiagaan, Sinergi HSE & Damkar Jadi Garda Terdepan

MPI, JAKARTA — Upaya meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana kebakaran terus diperkuat oleh perusahaan ekspedisi nasional JNE melalui kegiatan simulasi kebakaran dan tanggap darurat yang berlangsung di lingkungan operasional JNE Pusat.

Kegiatan ini digawangi langsung oleh tim HSE (Health, Safety, Environment) & Security JNE, dengan melibatkan unsur pemadam kebakaran dari wilayah Tanjung Duren, Jakarta Barat. Rabu, (22/4/2026).

 

Simulasi yang berlangsung dinamis ini menggambarkan skenario kebakaran di area kerja, mulai dari deteksi awal, aktivasi alarm, proses evakuasi karyawan, hingga penanganan api oleh tim tanggap darurat internal yang bersinergi dengan petugas Damkar. Asap tebal buatan dan suara sirine menggema, menciptakan suasana yang menyerupai kondisi darurat sebenarnya.

Manager HSE & Security JNE Pusat, Heny Sulistiyawati, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan bagian dari komitmen perusahaan dalam menjaga keselamatan seluruh pekerja dan aset perusahaan.

“Simulasi ini kami rancang semirip mungkin dengan kondisi nyata. Tujuannya agar seluruh karyawan tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki refleks cepat dan tepat saat menghadapi situasi darurat. Keselamatan adalah prioritas utama kami, dan ini merupakan bentuk tanggung jawab moral sekaligus profesional”, ujar Heny dalam keterangannya.

Lebih lanjut, Heny menjelaskan bahwa pihaknya terus melakukan evaluasi dan peningkatan sistem keamanan, termasuk pelatihan berkala, pengecekan alat pemadam api ringan (APAR), hingga penguatan jalur evakuasi.

“Kami ingin memastikan bahwa setiap individu di lingkungan JNE memiliki kesadaran tinggi terhadap potensi risiko. Budaya safety harus hidup dalam keseharian, bukan hanya saat simulasi berlangsung”, tambahnya.

Sementara itu, perwakilan dari Pemadam Kebakaran Tanjung Duren, Indra Setiawan, memberikan apresiasi terhadap keseriusan JNE dalam membangun sistem tanggap darurat yang terintegrasi.

“Kami melihat JNE memiliki komitmen yang sangat baik dalam aspek keselamatan kerja. Simulasi seperti ini sangat penting karena dalam kondisi nyata, waktu adalah faktor penentu. Keterlambatan beberapa menit saja bisa berakibat fatal”, tegas Indra.

Dalam pernyataannya yang lebih mendalam, Indra juga menyoroti pentingnya koordinasi antara tim internal perusahaan dengan pihak eksternal seperti Damkar.

“Kami tidak hanya melatih cara memadamkan api, tetapi juga bagaimana membangun komunikasi yang efektif di tengah situasi krisis. Banyak kasus kebakaran menjadi besar karena miskomunikasi di lapangan. Di sini kami latih bagaimana komando berjalan jelas, siapa melakukan apa, dan bagaimana prosedur evakuasi dilakukan tanpa kepanikan”, jelasnya panjang lebar.

Ia juga mengingatkan bahwa kesiapan mental dan disiplin prosedur menjadi kunci utama dalam menghadapi bencana.

“Kebakaran bukan hanya soal api, tapi soal bagaimana manusia bereaksi terhadap ancaman. Jika semua sudah terlatih, maka potensi korban jiwa bisa ditekan seminimal mungkin. Kami berharap kegiatan seperti ini bisa menjadi contoh bagi perusahaan lain”, tambah Indra.

Simulasi ini juga melibatkan tim Security JNE yang berperan aktif dalam pengamanan lokasi, pengaturan jalur evakuasi, serta memastikan tidak ada karyawan yang tertinggal di dalam area terdampak. Proses evakuasi berlangsung tertib, dengan seluruh peserta diarahkan melalui jalur evakuasi menuju titik kumpul yang telah ditentukan.

Kegiatan ditutup dengan sesi evaluasi bersama, di mana seluruh pihak yang terlibat memberikan masukan guna penyempurnaan prosedur di masa mendatang. Beberapa catatan penting meliputi kecepatan respon awal, efektivitas komunikasi, serta kesiapan peralatan darurat.

Dengan terselenggaranya simulasi ini, JNE menegaskan komitmennya untuk terus menjaga standar keselamatan kerja yang sesuai dengan standar dan regulasi yang berlaku, sekaligus membangun budaya tanggap darurat yang kuat di lingkungan perusahaan.

Evy Priliana Susanti selaku Wakil Penanggung Jawab Tim Tanggap Darurat JNE, juga angkat bicara dengan penekanan kuat pada kesiapan tim internal dalam menghadapi kondisi darurat.

“Simulasi ini bukan hanya soal prosedur, tetapi tentang membangun insting dan keberanian dalam menghadapi risiko. Tim Tanggap Darurat JNE dilatih untuk menjadi garda terdepan saat insiden terjadi, mulai dari deteksi dini, pengendalian api, hingga memastikan seluruh karyawan keluar dengan selamat”, jelas Evy.

Ia menegaskan bahwa pelatihan rutin menjadi kunci utama dalam menciptakan respons cepat dan tepat.

“Kami tidak ingin ada korban jiwa atau kerugian besar hanya karena kelalaian atau ketidaksiapan. Oleh karena itu, pelatihan seperti ini akan terus kami tingkatkan, baik dari sisi teknis maupun mental. Ini adalah bentuk komitmen kami terhadap keselamatan seluruh insan JNE”, tegasnya.

Simulasi juga melibatkan tim Security yang berperan penting dalam pengamanan area, pengaturan arus evakuasi, hingga memastikan tidak ada individu yang tertinggal di dalam gedung. Seluruh proses berjalan tertib, dengan karyawan diarahkan menuju titik kumpul yang telah ditentukan.

Kegiatan ditutup dengan sesi evaluasi menyeluruh yang melibatkan seluruh pihak, mulai dari tim internal hingga Damkar. Beberapa catatan penting mencakup kecepatan respons awal, efektivitas komunikasi, serta kesiapan peralatan darurat.

Dengan simulasi ini, JNE menegaskan satu pesan kuat: keselamatan bukan pilihan, melainkan kewajiban yang harus dijaga setiap saat.

Zakaria (Bang Zeck)

Pos terkait