Gelaran Purnama Tiyuh-tiyuh Akan Hadirkan Sajian Kolaborasi Karya Seni Menarik

PATROLIINDONESIA | TUBABA – Dalam gelaran “Purnama Tiyuh-Tiyuh” akan menyajikan karya seni menarik yaitu penampilan kolaborasi musik tradisional dari Jawa Barat, Angklung, dan musik tradisional dari Tubaba, Q-Thik.

“Keduanya sama-sama instrumen yang dibuat dari bambu, yang menarik lagi dimainkan oleh anak-anak, rata-rata usia 7-12 tahun,” kata Direktur Sekolah Seni Tubaba, Semi Ikra Anggara, Sabtu (26/03/2022).

Kolaborasi itu akan disajikan pada tanggal 27 Maret 2022 pukul 19.30 Wib. Di Balai Sesat Agung Kompleks Islamic Center, Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba) Lampung.

Kata dia, Q-thik adalah alat musik tradisional baru yang diciptakan komposer Lawe Samagaha. Lawe membuat alat music Q-thik berdasarkan pengembangan alat musik Cetik Lampung, selain instrumen Cetik yang bentuknya diperbesar dan menjadi ansambel lengkap, Lawe menaikan nada cetik yang hanya satu oktaf menjadi dua oktaf dalam Q-thik.

Sementara,Angklung merupakan alat musik bambu yang pada awalnya dimainkan sebagai pujian pada Dewi Sri Pohaci, dimainkan saat petani menanam atau memanen padi, terdapat nilai lingkungan pada kesenian ini.

Sehingga boleh dibilang secara irama dan nada Q-thik lebih kaya dan lebih dimungkinkan membuat komposisi musik baru. Sedangkan angklung merupakan alat musik yang hanya memiliki satu nada.

“Setiap bilah angklung memiliki satu nada diatonis, jadi setiap pemain hanya bermain dan fokus pada satu nada, sebuh komposisi music angklung yang harmonis membutuhkan beberapa nada angklung, setiap pemain harus fokus pada nada yang dimainkan, mengikuti arah seorang konduktor (pengarah) lagu, maka sebuah lagu dari angklung dapat berjalan dengan baik,” paparnya.

Menurut Semi, sekaligus salah satu penggagas acara ini, kolaborasi angklung dan Q-thik menjadi menarik, bukan semata karena keduanya terbuat dari bambu, melainkan bagaimana setiap individu dalam kolaborasi ini bertanggung jawab pada alat musik dan nada yang dipegang masing- masing, demi menciptakan musik yang indah.

Kolaborasi Angklung dan Q thik adalah sebuah proses pembelajaran karakter. Jika ada seorang pemain egois, tidak bertanggung jawab, merasa benar sendiri, maka music kolaborasi ini tidak akan enak didengar.

“Memainkan angklung dan Q-thik pada prinsipnya adalah belajar proses kehidupan yang sesungguhnya, jika kita tidak bertanggung jawab pada pada tugas kita masing-masing, egois, membenci orang lain, maka kehidupan kita bermasyarakat akan hancur,” imbuhnya. (Anp)

Pos terkait