Proyek P3-TGAI di Penyabungan Utara Merugikan Negara dan Dampak Bagi Petani

MPI, Madina – Pelaksanaan proyek P3-TGAI (Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi) bertujuan untuk memberikan dampak positif pada sektor pertanian yang meliputi peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani.

Namun saat ini, pelaksanaan anggaran tahun 2025 yang tepatnya berlokasi di Desa Mompang Julu, kecamatan Panyabungan Utara, kabupaten Mandailing Natal (Madina) berujung sorotan.

Dugaan dalam pekerjaan tersebut dikategorikan asal jadi serta berbaur lemahnya pengawasan yang menimbulkan penilaian buruk hingga memantik reaksi keras dari tokoh masyarakat setempat Magrifatulloh Lubis. Minggu (28/09/2025)

Magrifatulloh menilai mutu pembangunan jauh dari Standard Operating Procedure (SOP) dan berpotensi minim hingga akan menimbulkan kerugian besar bagi negara.

“Jika benar info penggunaan semen hanya satu sak berbanding delapan dalam pencampuran, ini sungguh keterlaluan. Proyek negara tidak boleh dikerjakan asal-asalan. Ini sama saja mengkhianati rakyat,” tegasnya.

Ia juga menyoroti sikap Camat Panyabungan Utara yang mengaku tidak mengetahui adanya proyek di desa Mompang Julu. Hal ini dianggap sebagai bukti lemahnya koordinasi dan pengawasan di tingkat kecamatan.

“Seorang Camat udah semestinya tahu setiap kegiatan di wilayahnya. Apalagi tentang proyek menggunakan uang negara. Jangan sampai terkesan tutup mata,” ujarnya.

Selain itu, ketiadaan plank proyek penggunaan anggaran ia menilai sebagai pelanggaran serius terhadap principle keterbukaan informasi publik. Sebab menurutnya, transparansi adalah syarat mutlak agar masyarakat bisa ikut melakukan pengawasan.

“Masyarakat berhak tahu, berapa pagu anggaran, siapa pelaksananya, dan bagaimana kualitasnya. Kalau plank proyek pun tidak dipasang, jelas ada yang ditutupi,” pungkasnya.

Lebih jauh, ia mengingatkan dampak langsung yang akan dirasakan petani bila pembangunan irigasi dikerjakan asal jadi. Kerusakan saluran irigasi, menurutnya, akan membuat sawah kering dan panen gagal.

“Irigasi ini adalah urat nadi petani. Kalau bangunan cepat rusak, sawah akan kering, panen bisa gagal. Rakyat kecil yang paling dirugikan, sementara oknum tertentu mungkin sudah kenyang dengan uang proyek,” ucapnya.

Magrifatulloh mendesak aparat penegak hukum, baik kejaksaan, kepolisian, maupun inspektorat, agar segera turun ke lapangan melakukan investigasi. Ia menekankan pentingnya langkah cepat untuk memastikan anggaran negara tidak terbuang sia-sia.

“Jangan biarkan uang rakyat dirampok dengan cara seperti ini. Aparat hukum harus bertindak juga audit segera, dan periksa semua pihak terkait.Jangan tunggu sampai kerusakan terjadi,” tutupnya.

Masyarakat berharap hal ini menjadi pintu masuk penyelidikan serius sehingga proyek P3-TGAI benar-benar memberi manfaat nyata bagi petani, bukan menjadi catatan kelam pembangunan khususnya di Madina.

(S.Nasution)

Pos terkait